BENGKULU — Partai Golkar memilih tidak mempermasalahkan keputusan PDIP yang menyatakan diri sebagai partai penyeimbang di luar koalisi pemerintahan Prabowo Subianto. Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Sarmuji, menilai dinamika politik semacam itu adalah hal wajar dalam demokrasi. “Kami menghormati posisi PDIP sebagai partai penyeimbang. Itu adalah hak politik mereka,” kata Sarmuji dalam keterangan yang diterima di Jakarta, kemarin.
Sarmuji menolak mengomentari lebih jauh dampak dari posisi politik PDIP terhadap stabilitas pemerintahan. Menurutnya, efektivitas peran partai penyeimbang atau oposisi bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan. “Rakyat yang akan menilai apakah sikap itu baik atau tidak,” ujarnya.
Pernyataan ini keluar di tengah spekulasi mengenai potensi fragmentasi politik pasca-pemilu. PDIP, yang sebelumnya menjadi partai pemenang pemilu, memutuskan untuk tidak bergabung dalam kabinet Prabowo. Keputusan itu memicu perdebatan di kalangan elite politik mengenai bentuk ideal check and balances di era pemerintahan baru.
Golkar sendiri merupakan salah satu partai yang sejak awal menyatakan dukungan penuh kepada Prabowo. Sarmuji menegaskan partainya tetap berpegang pada komitmen koalisi yang sudah dibangun. “Kami di Golkar fokus pada program kerja pemerintah. Soal posisi partai lain, itu urusan mereka,” katanya.
Ia menambahkan, koalisi pemerintahan saat ini sudah cukup solid tanpa perlu memaksakan partai lain untuk bergabung. Menurut Sarmuji, yang terpenting adalah seluruh elemen bangsa tetap menjaga kondusivitas politik nasional. “Tidak perlu ada ketegangan. Semua pihak punya hak politik masing-masing,” ucapnya.
Keputusan PDIP untuk menjadi partai penyeimbang menandai peta politik baru di Indonesia. Sebelumnya, PDIP kerap menjadi motor penggerak koalisi di era Presiden Joko Widodo. Kini, partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu memilih berada di luar kabinet, meskipun belum secara resmi mendeklarasikan diri sebagai oposisi.
Sikap Golkar yang cenderung akomodatif terhadap langkah PDIP dinilai sebagai strategi untuk menjaga stabilitas politik jangka panjang. Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Aditya Perdana, menilai pernyataan Sarmuji adalah sinyal bahwa koalisi tidak ingin terkesan eksklusif. “Golkar ingin menunjukkan bahwa mereka tidak alergi terhadap perbedaan,” kata Aditya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Istana Negara mengenai posisi PDIP. Presiden Prabowo dijadwalkan akan mengumumkan susunan kabinet secara resmi dalam waktu dekat.