JAKARTA — Gempa berkekuatan magnitudo 7,1 yang berpusat di Prefektur Kumamoto, Jepang, pada Selasa (8/8) pukul 16.27 waktu setempat, terjadi di kedalaman 16 kilometer. Badan Meteorologi Jepang mencatat gempa ini berasal dari sesar geser (strike-slip fault), di mana dua lempeng bergeser secara mendatar—karakteristik yang sama dengan gempa besar tahun 2016.
Pusat gempa terbaru ini berlokasi tidak jauh dari episentrum gempa darat M6,5 pada 14 April 2016 dan M7,3 dua hari setelahnya. Ketiga gempa tersebut sama-sama mencatat skala intensitas seismik tertinggi level 7 di sejumlah wilayah prefektur itu.
Gempa tahun 2016 lalu merusak kawasan tersebut dan menewaskan lebih dari 270 orang. Dua zona sesar aktif utama, yaitu sesar Hinagu dan Futagawa, yang memicu gempa saat itu, membentang di wilayah tengah Kyushu.
Shinji Toda, Profesor Seismologi dari Universitas Tohoku, menemukan bahwa jumlah gempa berkekuatan magnitudo 1,5 atau lebih meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebelum gempa 2016. Temuan ini didasarkan pada analisis aktivitas seismik di dekat zona sesar Hinagu selama sepuluh tahun terakhir.
"Gempa tahun 2016 diyakini telah memicu tegangan dan tekanan besar, yang akhirnya menyebabkan pergerakan di sepanjang zona sesar Hinagu kali ini," jelas Toda. Ia menambahkan bahwa kedua peristiwa tersebut memiliki mekanisme pemicu yang sama.
Para ahli berulang kali mengingatkan bahwa bagian selatan zona sesar Hinagu—yang membentang hingga ke Laut Yatsushiro—hampir tidak mengalami pergeseran pasca-gempa satu dekade lalu. Tekanan yang terakumulasi selama bertahun-tahun inilah yang diduga menjadi pemicu gempa kali ini.
Meski analisis para ahli menunjukkan kaitan erat, Badan Meteorologi Jepang sejauh ini belum secara eksplisit mengaitkan gempa Selasa lalu dengan rangkaian gempa besar 2016. Namun, peringatan potensi gempa susulan kuat tetap dikeluarkan untuk kawasan barat daya Jepang.