BENGKULU — Persediaan rudal pencegat untuk sistem pertahanan udara Patriot Ukraina berada di titik kritis. Data intelijen yang beredar menunjukkan stok yang tersedia saat ini hanya mencapai 10 persen dari kebutuhan minimum operasional, situasi yang langsung memengaruhi kemampuan Kyiv dalam melindungi infrastruktur vital dan pusat-pusat populasi dari serangan udara Rusia.
Angka tersebut menjadi sorotan utama dalam pembahasan paket bantuan militer terbaru dari Amerika Serikat. Sejumlah pejabat Pentagon mengakui bahwa produksi rudal pencegat global tidak mampu mengimbangi laju konsumsi di medan perang, mengingat intensitas serangan Rusia yang kian tinggi.
Dengan stok yang menipis, komandan pertahanan udara Ukraina terpaksa mengubah strategi. Mereka kini lebih memprioritaskan pencegat untuk sasaran bernilai tinggi, seperti rudal balistik yang menyasar pembangkit listrik atau pusat komando militer, dibandingkan menghadapi drone atau rudal jelajah yang lebih murah.
Konsekuensinya, beberapa serangan yang sebelumnya bisa dicegat kini dibiarkan melintas. Hal ini meningkatkan risiko kerusakan pada jaringan listrik dan fasilitas sipil, terutama saat musim dingin mendekat dan kebutuhan energi meningkat.
Rudal pencegat Patriot, yang diproduksi oleh Raytheon, merupakan salah satu amunisi pertahanan udara paling canggih dan mahal di dunia. Biaya produksinya mencapai jutaan dolar per unit, dan lini produksinya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memenuhi pesanan dalam jumlah besar.
Ketergantungan Ukraina pada sistem Patriot memang sangat tinggi. Sistem ini menjadi satu-satunya pertahanan andal terhadap rudal balistik Rusia yang terbukti sulit dihadang sistem lain. Sejak awal invasi, Washington dan sekutu Eropa telah memasok lebih dari satu baterai Patriot, namun kebutuhan amunisi di lapangan jauh melebihi estimasi awal.
Pemerintahan Biden sebelumnya telah menyetujui pengiriman rudal tambahan melalui Presidential Drawdown Authority, namun logistik pengiriman dan pelatihan operator tetap menjadi tantangan. Beberapa anggota Kongres AS mendesak Pentagon untuk memprioritaskan pengiriman amunisi ke Ukraina daripada menambah stok untuk kebutuhan domestik.
Di sisi lain, Ukraina terus melobi sekutu Eropa untuk menyumbangkan sistem pertahanan udara lain seperti NASAMS atau IRIS-T guna meringankan beban kerja Patriot. Namun, ketersediaan sistem-sistem tersebut di gudang militer negara-negara Eropa juga terbatas.
Krisis amunisi ini diprediksi akan menjadi faktor penentu jalannya perang dalam enam bulan ke depan. Jika pasokan tidak segera membaik, Ukraina harus mengambil risiko besar dalam melindungi wilayah udaranya, yang berpotensi mengubah peta pertempuran di garis depan.