LINTASBENGKULU.ID — Wilayah Provinsi Bengkulu masuk dalam lintasan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang membubung hingga lapisan 50.000 kaki pascaerupsi pada Minggu, 6 September 2026. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mencatat sebaran partikel letusan tersebut meluas ke enam provinsi dan melintasi ruang udara krusial penerbangan internasional. Warga pesisir diimbau mengenakan masker guna mengantisipasi paparan debu, sementara otoritas penerbangan terus memantau pergerakan abu demi keselamatan rute perjalanan.
Gunung api di Selat Sunda tersebut meletus tanpa terpantaunya tinggi kolom abu akibat kondisi erupsi yang masih berjalan saat laporan MAGMA Indonesia disusun oleh petugas pos pengamatan PVMBG, Rioboniek Situmorang. Letusan kali ini menambah panjang catatan aktivitas vulkanik gunung tersebut, yang telah mengalami lebih dari 240 kali letusan sejak statusnya dinaikkan ke Level III (Siaga) per 2 Juli 2026.
BMKG mendeteksi abu vulkanik terbagi dalam dua lapisan ketinggian yang berbeda arah persebarannya. Lapisan pertama berada di ketinggian permukaan laut hingga 20.000 kaki, bergerak mengarah ke Tenggara-Selatan dan mencakup sebagian wilayah Banten serta Jawa Barat.
Lapisan kedua membubung dari permukaan hingga mencapai ketinggian 50.000 kaki. Lapisan inilah yang lintasannya membentang luas menaungi sebagian Lampung, Banten, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, area selatan Selat Sunda, hingga perairan terbuka di Samudra Hindia.
Ketinggian 50.000 kaki merupakan koridor vital lalu lintas udara rute internasional. Guna mengantisipasi bahaya partikel abu terhadap mesin pesawat, otoritas penerbangan Indonesia kini menjalin koordinasi intensif bersama Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, Australia.
Dampak langsung sebaran abu vulkanik terhadap moda transportasi udara telah memicu pembatalan sebanyak 3 penerbangan di Lampung. Langkah pembatalan diambil karena partikel vulkanik berisiko tinggi merusak mesin jet dan membahayakan penerbangan komersial.
Situasi tersebut menyusul penutupan sementara operasional Bandara Soekarno-Hatta yang berlangsung pada dini hari yang sama. Terkait ancaman gelombang laut, PVMBG memastikan potensi risiko timbulnya tsunami akibat rentetan aktivitas erupsi ini dinilai sangat kecil hingga nyaris nihil.
Menyikapi sebaran debu yang mengarah ke daratan Sumatra, pemerintah daerah di enam provinsi terdampak diinstruksikan segera memperkuat koordinasi dengan BPBD masing-masing. Upaya mitigasi difokuskan pada perlindungan kesehatan masyarakat, terutama mereka yang mendiami kawasan pesisir.
Warga diimbau menggunakan masker pelindung dan membatasi aktivitas di luar ruangan bila tidak ada keperluan mendesak. Imbauan ini penting untuk mencegah timbulnya gangguan pernapasan akibat paparan partikel halus yang terbawa angin.
Kondisi gunung saat ini masih dipantau ketat, di mana PVMBG melarang masyarakat, wisatawan, maupun pendaki beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Terkait perkembangan ini, Badan Geologi Kementerian ESDM mengeluarkan peringatan resmi kepada publik:
"Meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat."