BENGKULU — Kisah cinta di industri musik kerap menjadi narasi yang memikat, terutama ketika dijalani di atas panggung dan di balik layar. "Bleeding Hearts" mencoba menangkap dinamika itu secara jujur dan intim, mengikuti perjalanan Zella Day dan Jesse Woods yang menemukan cinta sekaligus kolaborasi artistik dalam band bernama Chaparelle.
Zella Day bukan nama asing di industri pop. Penyanyi yang pernah menjadi pembuka konser Lana Del Rey ini menghabiskan 13 tahun di Los Angeles untuk mengejar karier solonya. Di sisi lain, Jesse Woods adalah penulis lagu country yang lebih memilih kesendirian dalam proses kreatifnya dibanding tampil di panggung.
Perbedaan usia 12 tahun dan karakter yang bertolak belakang justru menjadi perekat hubungan mereka. Woods yang berusia 43 tahun mengaku dirinya pribadi yang tertutup, sementara Day yang penuh energi mampu menjadi "obat" bagi depresi yang kerap dialami pasangannya.
"Zella dan saya sangat berlawanan dalam banyak hal. Saya lebih stoik dengan komunikasi yang minim. Zella adalah pribadi yang ceria dan itu obat yang sangat baik bagi saya," ujar Woods dalam pernyataan resminya.
Pertemuan mereka terjadi di waktu yang tepat. Woods tengah berada di titik terendah hidupnya setelah pindah ke kabin di Wimberley, Texas—daerah terpencil dengan populasi 2.800 jiwa. Ia baru saja melewati perpisahan dan berjuang melawan kebiasaan minum berlebihan.
Day pun mengalami kelelahan serupa terhadap industri musik. "Saya menandatangani kontrak rekaman dan penerbitan saat berusia 18 tahun. Seluruh hidup saya dibangun di sekitar citra dan musik saya. Pada usia 26, saya kelelahan dengan semua itu," kenang Day tentang masa kelamnya di Los Angeles.
Pada 2021, Day yang merupakan penggemar musik Woods menghubunginya untuk sekadar menulis lagu bersama. Pertemuan di Austin City Limits berkembang menjadi kunjungan rutin ke Wimberley. Produser Beau Bedford kemudian bergabung, dan trio ini menulis dua lagu—"Bleeding Hearts" dan "Bad Loving"—hanya dalam dua hari. Chaparelle lahir dari momen tersebut.
Andrew Morgan pertama kali mendengar lagu "Bleeding Hearts" melalui demo yang dikirim temannya. Lagu duet dengan lirik "A bleeding heart will make a mess of things, a falling star will burn up everything" langsung memikat hatinya.
"Saya punya reaksi viseral terhadap lagu itu, seperti saat kecil mendengar lagu dalam film Cameron Crowe yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Ada sesuatu yang menyala dalam diri saya," kenang Morgan.
Sang sutradara kemudian menghubungi pasangan tersebut dan mengusulkan ide mendokumentasikan tahun pertama perjalanan band mereka—periode yang ia sebut penuh gejolak dan kegembiraan tanpa tahu apa yang akan terjadi. Day dan Woods setuju tanpa kontrak tertulis yang mengikat.
Narasi "Bleeding Hearts" memang mengingatkan pada film klasik seperti "Walk the Line" atau tiga versi "A Star Is Born". Namun Morgan menegaskan filmnya bukan sekadar romantisme belaka. "Mereka adalah dua orang yang saling mencintai dengan cara yang sangat jujur, dan kejujuran itu keluar saat mereka tampil," jelasnya.
Bagi Day, hubungan ini menjadi penyelamat dari kejenuhan industri yang transaksional. "Saya kehausan akan keaslian," katanya. Wimberley terasa akrab baginya, mengingatkan pada kampung halamannya di Pinetop, Arizona.
Penayangan perdana "Bleeding Hearts" di TIFF menandai babak awal perjalanan film ini menuju audiens yang lebih luas, sekaligus mengukuhkan Chaparelle sebagai proyek musikal yang lahir dari kebutuhan akan koneksi manusiawi di tengah hiruk-pikuk industri hiburan.