BENGKULU — Ford menarik lebih dari 27 juta kendaraan di Amerika Serikat sepanjang 2025 hingga pertengahan 2026, memicu antrean perbaikan di dealer yang mencapai berbulan-bulan. Rata-rata jeda penyediaan suku cadang perbaikan mencapai 198 hari, jauh melampaui batas 60 hari yang ditetapkan regulator NHTSA. Pemilik kendaraan terpaksa tetap mengemudi dengan risiko kebakaran dan kecelakaan yang belum tertangani.
National Highway Traffic Safety Administration mencatat Ford mengeluarkan 153 kampanye penarikan sepanjang 2025, mencakup 12.958.128 unit kendaraan. Sepanjang 2026 hingga kini, pabrikan asal Dearborn itu sudah menerbitkan 75 recall untuk 14.037.387 unit. Artinya, jumlah kendaraan yang ditarik tahun ini sudah melampaui total tahun lalu meski jumlah kasusnya kurang dari separuh.
Timgginya volume recall berimbas pada kecepatan penanganan. Banyak perbaikan menuntut kunjungan fisik ke dealer, sementara ketersediaan suku cadang pengganti baru siap setelah berbulan-bulan. Sebagian pemilik kendaraan harus menunggu tanpa kepastian kapan komponen bermasalah bisa diganti.
NHTSA mendefinisikan keterlambatan perbaikan "signifikan" sebagai kondisi ketika penyediaan solusi melewati 60 hari sejak pemberitahuan recall dikirim ke konsumen. Ford tercatat memiliki rata-rata 198 hari dari 22 recall yang mengalami keterlambatan signifikan sepanjang 2025 hingga Juni tahun ini.
Data periode 2021–2025 menempatkan Ford di posisi ketiga untuk keterlambatan perbaikan signifikan, dengan rata-rata 174 hari dari 110 recall. Nissan dan Stellantis berada di atasnya dengan 299 hari dan 225 hari, tetapi keduanya menerbitkan kasus keterlambatan jauh lebih sedikit — Nissan 13 kasus dan Stellantis 27 kasus.
Sepanjang 2021–2025, 79% recall di seluruh industri otomotif Amerika Serikat mendapat solusi dalam dua bulan. Angka Ford hanya 53%. Sekitar 6 juta kendaraan Ford dalam periode itu tidak menerima perbaikan setidaknya selama satu tahun.
Sejumlah kasus menonjol. Recall yang mencakup ratusan ribu Bronco Sport dan Escape akibat injektor bahan bakar berpotensi retak, bocor, dan memicu kebakaran butuh 11 bulan sebelum solusi tersedia — setelah pembaruan perangkat lunak awal hanya berfungsi mendeteksi keretakan.
Ford mengandalkan pembaruan over-the-air untuk sebagian masalah. Pabrikan ini memimpin atas Tesla dalam hal jumlah pembaruan OTA tahunan, menurut analis industri yang dikutip The Detroit News. Setidaknya delapan recall Ford tahun lalu diselesaikan lewat jalur ini.
Metode lain yang ditempuh adalah perbaikan melalui layanan mobile atau kunjungan ke dealer. Namun, memperbesar kapasitas rantai pasok suku cadang pengganti tetap butuh waktu berbulan-bulan, sehingga tidak semua kasus bisa dipercepat.
Beban tidak hanya dirasakan pemilik kendaraan. Dealer menghadapi kendala penjualan karena unit dengan recall terbuka dilarang dijual. Jika Ford mengetahui recall akan diterbitkan, kendaraan bisa ditahan di pabrik sejak awal.
Salah satu dealer menyebut JD Power baru saja menempatkan Ford sebagai merek mainstream peringkat pertama untuk kualitas awal. Klaim itu belum tercermin di lapangan: sejak pengumuman tersebut pada 25 Juni, Ford kembali menerbitkan 22 recall baru.