BENGKULU — Tim Pengabdian Dosen Universitas Bengkulu (UNIB) mendampingi masyarakat Desa Tik Kuto, Kabupaten Lebong, mengembangkan pertanian organik yang mengintegrasikan kegiatan pertanian dengan pemanfaatan limbah organik. Pendampingan berjalan melalui kerja sama antara Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNIB dan Pemerintah Desa Tik Kuto.
Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua pihak sekaligus menetapkan Desa Tik Kuto sebagai salah satu desa binaan UNIB. Penetapan itu didasarkan pada potensi dan kebutuhan masyarakat setempat.
Konsep ekonomi sirkular hijau yang diterapkan tim pengabdian menghubungkan sejumlah kegiatan dalam satu siklus. Kegiatan pertanian, pemanfaatan limbah organik, pembuatan Pupuk Organik Cair (POC), hingga penguatan kemampuan masyarakat dalam pengemasan dan pemasaran produk pertanian dikerjakan secara terpadu.
Bahan organik yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan pertanian. Pola ini membuat warga tidak hanya bergantung pada input pertanian dari luar, tetapi juga mengolah sumber daya yang tersedia di desa.
Sekretaris LPPM Bidang Pengabdian UNIB, Hardiansyah, menyebut kerja sama tersebut sebagai ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan potensi desa.
"Kerja sama ini diharapkan dapat menjadi ruang bagi perguruan tinggi dan masyarakat untuk bersama-sama mengembangkan potensi desa. Pengabdian tidak hanya berupa transfer pengetahuan tetapi juga proses pendampingan agar masyarakat mampu mengembangkan potensi secara mandiri dan berkelanjutan," kata Hardiansyah di Bengkulu, Senin.
Pernyataan itu menegaskan bahwa program pengabdian diarahkan pada kemandirian warga, bukan sekadar pemberian pengetahuan sekali jalan. Pendampingan berjalan agar masyarakat Desa Tik Kuto mampu mengelola potensi pertaniannya sendiri setelah program selesai.
Penguatan kemampuan pengemasan dan pemasaran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari program. Warga didampingi agar produk pertanian yang dihasilkan memiliki nilai tambah, bukan hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.
Dengan pemanfaatan limbah organik menjadi pupuk, biaya produksi pertanian berpotensi ditekan. Sementara pengemasan dan pemasaran yang lebih baik membuka peluang produk Desa Tik Kuto menjangkau pasar yang lebih luas.
Kabupaten Lebong dikenal memiliki lahan pertanian yang menjadi tumpuan penghidupan sebagian besar warganya. Pendekatan ekonomi sirkular yang diterapkan UNIB menyasar dua persoalan sekaligus: produktivitas lahan dan pengelolaan limbah organik rumah tangga maupun pertanian.
Penetapan Desa Tik Kuto sebagai desa binaan UNIB membuka jalan bagi pendampingan lanjutan dari tim pengabdian dosen. Program ini menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi di Bengkulu menempatkan potensi desa sebagai dasar pengembangan, bukan sekadar menerapkan model dari luar.
Keberlanjutan program akan bergantung pada kemampuan warga mengadopsi dan mengembangkan sendiri praktik pertanian organik yang diperkenalkan. Pendampingan LPPM UNIB diarahkan pada titik itu.