Pecahan Roket China ZhuQue-2E Jatuh di Kalimantan, BRIN Ungkap Risikonya

Penulis: Sutomo  •  Kamis, 22 Oktober 2026 | 16:34:31 WIB
Pecahan roket China ZhuQue-2E ditemukan di perkebunan sawit Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

BENGKULU — Pecahan roket China ZhuQue-2E ditemukan di perkebunan sawit Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, setelah diluncurkan membawa 10 satelit pada 14 Oktober 2026. Benda yang tergolong sampah antariksa itu kini diamankan di Lanud Iskandar Pangkalan Bun untuk diidentifikasi. Insiden ini membuka diskusi soal risiko dan prosedur penanganan sampah antariksa di Indonesia.

Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin menyebut sampah antariksa sebagai bagian roket peluncur atau satelit yang tidak berfungsi lagi, baik yang masih mengorbit Bumi maupun dalam perjalanan menuju orbit. Jumlahnya kini mencapai belasan ribu.

Hambatan udara membuat sampah di orbit rendah perlahan turun ketinggian. "Karena hambatan udara, sampah antariksa di orbit rendah makin lama makin turun ketinggiannya," jelas Thomas dalam blog pribadinya, dikutip Rabu (21/10).

Kronologi Temuan di Sampit

Roket ZhuQue-2E (ZQ-2E) menjalankan misi peluncuran 10 satelit pada 14 Oktober 2026. Badan roket tersebut terbakar dan pecah di kemudian hari.

Analisis orbit menunjukkan kesesuaian dengan benda yang ditemukan warga di kawasan perkebunan sawit Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. Berdasarkan laporan suara gemuruh yang didengar warga, kepingan logam besar itu kemungkinan jatuh sekitar pukul 17.36 WIB pada Minggu (18/10), lalu ditemukan keesokan paginya (19/10).

Benda tersebut telah diamankan ke Lanud Iskandar Pangkalan Bun untuk identifikasi lebih lanjut.

Bukan Kali Pertama Sampah Antariksa China Jatuh di Kalimantan

Kalimantan mencatat beberapa insiden serupa. Pada 2021, pecahan roket Changzheng-8 ditemukan di Kalimantan Tengah. Setahun berselang, sisa roket Changzheng-5B jatuh di Kalimantan Barat.

Temuan sampah antariksa juga pernah terjadi di Sumatera Barat (2017), Madura (2016), Bengkulu (2003), Lampung (1988), dan Sulawesi (1981).

Risiko ke Kerusakan hingga Penerbangan

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) Robertus Heru Triharjanto menyebut sampah antariksa bisa berukuran besar, padat, berat, dan tajam. Kondisi itu berpotensi menghancurkan objek yang tertimpa atau landasannya.

Jatuhnya benda dari orbit juga dapat mengganggu aktivitas penerbangan. "Dengan masuknya benda apapun ke ruang udara seperti sampah antariksa (atau bahkan balon), ada kemungkinan bertabrakan dengan pesawat yang melintas. Sehingga umumnya jika diketahui akan ada yang melintas dilakukan koordinasi dengan otoritas lalu lintas udara (NOTAM)," ungkap Heru.

Sebagian besar satelit modern di orbit rendah dirancang terbakar habis di atmosfer saat masuk kembali. Namun material tertentu yang lebih tahan panas bisa mencapai permukaan Bumi.

Soal Klaim Kerugian dan Asuransi

Heru menjelaskan kerugian akibat jatuhnya komponen roket telah diatur melalui regulasi internasional. "Setiap peluncuran satelit harus diasuransikan, termasuk atas kerugian pihak ketiga yang mungkin timbul. Hal ini diatur di Liability Convention yang merupakan bagian dari Outer Space Treaty (perjanjian internasional) dan hukum nasional di negara tempat peluncuran tersebut," ungkapnya.

Thomas menambahkan prosedur penanganan lintas negara cukup rumit. Akibatnya, sampah antariksa biasanya hanya disimpan aparat setempat atau dijadikan materi edukasi. "Hanya kerugian besar yang dituntut oleh negara yang mengalami kerugian, seperti Kanada menuntut Uni Soviet karena sampah antariksa yang jatuh di Kanada bermuatan nuklir," kata Thomas kepada CNNIndonesia.com, Rabu (21/10).

Langkah yang Harus Dilakukan Jika Menemukan Sampah Antariksa

Temuan sampah antariksa di Indonesia dapat dilaporkan ke polisi dan BRIN. Polisi akan menjalankan prosedur pengamanan hingga staf BRIN datang melakukan investigasi.

Jika benda harus dipindah karena alasan keamanan atau keselamatan, misalnya jatuh di kediaman atau memicu kebakaran, warga diminta mengambil foto dengan cukup. "Hal tersebut diperlukan untuk bukti-bukti klaim asuransi ke pemilik benda antariksa," jelas Heru.

Risiko benda jatuh dari antariksa ikut meningkat seiring bertambahnya aktivitas peluncuran satelit komersial global. Penyedia jasa peluncuran umumnya mengantisipasi risiko dengan menjatuhkan komponen ke laut atau daerah tak berpenghuni, meski kegagalan teknis tetap bisa terjadi.

Reporter: Sutomo
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top