Haykal Kamil Soroti Kabut Asap Sumbar dan Isu Shadowban Medsos

Penulis: Sutomo  •  Selasa, 27 Oktober 2026 | 16:36:32 WIB
Artis Haykal Kamil menyoroti dampak kabut asap karhutla di Sumatera Barat setelah melihat langsung kondisi udara di Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh.

BENGKULU — Artis Haykal Kamil menyoroti dampak kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kabut asap di Sumatera Barat setelah melihat langsung kondisi udara di Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh pada awal Oktober. Ia mengaku jarak pandang saat pesawatnya hendak mendarat sangat terbatas hingga Bukit Barisan tak terlihat. Haykal juga menanggapi keluhan sejumlah artis yang diduga terkena shadowban usai menyuarakan isu lingkungan.

Kakak Zaskia Adya Mecca itu menuturkan, kunjungan ke Sumatera Barat dilakukan untuk keperluan pekerjaan. Sebelum berangkat, ia mengira dampak karhutla paling parah terjadi di wilayah yang selama ini kerap diberitakan, seperti Riau, Palembang, dan Palangka Raya.

Anggapan itu berubah begitu pesawat yang ditumpanginya mulai turun. Pandangan ke luar jendela terhalang kabut, dan kawasan Bukit Barisan yang biasanya terlihat jelas dari udara justru hilang dari pandangan.

Kondisi Udara Saat Mendarat di Sumbar

Haykal menyebut pengalaman itu membuatnya sadar betapa serius dampak kabut asap terhadap lingkungan dan kehidupan warga. Ia pun membandingkan kondisi di Sumatera Barat dengan daerah lain yang lebih sering jadi sorotan pemberitaan karhutla.

"Tapi kemarin ketika saya ke Sumatera Barat, ternyata pada saat mau turun pesawat saja, udaranya lebih parah," kata Haykal Kamil di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (27/10/2026).

"Harusnya kan kita bisa melihat Bukit Barisan, ini gak kelihatan. Jadi aku kayak, 'Wah, ini visibilitasnya rendah banget ya, jarak pandangnya gak terlalu bagus'," tuturnya.

Hak Bernapas dan Ironi di Payakumbuh

Bagi Haykal, udara bersih semestinya bisa dinikmati siapa saja tanpa harus menghadapi ancaman kesehatan. Ia menilai hak bernapas adalah hak dasar manusia yang tidak seharusnya dibayar mahal.

"Ini sangat amat menyedihkan karena sebenarnya hak untuk kita bernapas itu kan hak dasar manusia. Harusnya ini jadi sebuah hak yang bisa kita nikmati tanpa kita harus bayar mahal," ungkapnya.

Di Payakumbuh, ia tetap merasakan dampak kabut asap meski menurut informasi yang diterimanya tidak ada kebakaran langsung di daerah itu. Haykal mengibaratkan situasinya seperti mencium asap pembakaran sampah di sekitar rumah, tetapi tak tahu siapa yang harus diminta menghentikan sumber asap.

"Masalahnya kita gak tahu mau teriak ke siapa karena gak ada yang bisa kita bilang suruh matiin karena memang nggak ada di situ," jelasnya.

Bayangan Dampak Lebih Berat di Riau

Kondisi itu membuat Haykal membayangkan penderitaan warga yang tinggal di wilayah dengan kebakaran hutan dan lahan secara langsung, seperti Riau dan Pekanbaru. Ia juga menyinggung kunjungan Zaskia Adya Mecca ke Palangka Raya untuk melihat kondisi lapangan.

Dari situ, Haykal menduga dampak yang dirasakan masyarakat di kawasan tersebut jauh lebih berat. Ia menyayangkan karhutla yang menurutnya sebagian besar dipicu ulah manusia dan sebenarnya bisa dicegah.

"Sedih sebenarnya, sangat sedih, sangat kecewa. Aku rasa 90 persen ini karena ulah manusia sebenarnya, dan ini sangat bisa dicegah. Harapannya memang bisa ada pencegahan ke depannya supaya yang seperti ini nggak terulang," katanya.

Soal Shadowban dan Konten Ilegal

Haykal juga menanggapi keluhan sejumlah artis dan aktivis yang menduga akun media sosial mereka dibatasi setelah menyuarakan persoalan lingkungan. Ia mengaku beberapa kali mengunggah konten terkait karhutla dan menyayangkan bila akun yang bersuara soal lingkungan justru terkena pembatasan.

"Aku paham ada beberapa teman-teman yang memang sering bersuara di media sosial kena dan aku sangat menyayangkan sih. Harusnya yang kena ban itu judi online, terus prostitusi, bukan isu seperti ini," ungkapnya.

Menurut Haykal, karhutla adalah masalah nyata yang butuh perhatian bersama. Ia mempertanyakan bila konten lingkungan dibatasi sementara konten ilegal masih mudah ditemukan di platform media sosial.

"Kalau yang kayak gini aja sebenarnya bisa di-ban, kenapa yang ilegal beneran nggak bisa di-ban? Artinya kan sebenarnya gak ada willingness secara nyata untuk menyelesaikan isu ini," pungkasnya.

Isu karhutla dan pembatasan konten lingkungan kini menjadi perhatian publik, terutama di kalangan figur yang memakai platform media sosial untuk kampanye udara bersih.

Reporter: Sutomo
Sumber: hot.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top