BENGKULU — Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada kuartal II 2026 berada di level 110,89, atau tumbuh 0,69% secara tahunan. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 0,62% (yoy) pada kuartal I 2026, yang mengindikasikan laju kenaikan harga rumah di pasar primer masih berlangsung terbatas.
Harga Rumah Tipe Besar Menjadi Motor Kenaikan
Peningkatan IHPR terutama disumbang oleh kenaikan harga rumah tipe besar. Indeks harga rumah tipe besar tumbuh 0,68% (yoy) menjadi 108,41, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya tumbuh 0,50% (yoy).
Sementara itu, rumah tipe kecil mencatat perlambatan pertumbuhan harga. Indeksnya berada di angka 113,89 dengan pertumbuhan 0,49% (yoy), turun dari 0,61% (yoy) pada kuartal I 2026. Adapun rumah tipe menengah tumbuh relatif stabil dengan indeks 114,01.
Penjualan Properti Membaik, Didorong Tipe Kecil dan Besar
Dari sisi volume, terjadi perbaikan signifikan pada segmen rumah tipe kecil. Meski penjualannya masih terkontraksi 2,88% (yoy), angka ini membaik drastis dibandingkan kontraksi 45,59% (yoy) pada kuartal sebelumnya. Segmen rumah tipe besar bahkan berhasil berbalik arah dengan mencatat pertumbuhan penjualan 13,08% (yoy), kontras dengan kontraksi 8,03% (yoy) di kuartal I 2026.
Namun, tidak semua segmen mengalami perbaikan. Penjualan rumah tipe menengah justru turun, dari sebelumnya tumbuh 8,28% (yoy) menjadi terkontraksi 10,51% (yoy) pada kuartal II 2026.
Pangsa KPR Masih Dominan, Developer Andalkan Dana Internal
Dari sisi pembiayaan, struktur pendanaan pengembang masih bertumpu pada dana internal perusahaan. Kontribusinya mencapai 73,28% dari total kebutuhan pembiayaan, diikuti pinjaman perbankan sebesar 17,89% dan pembayaran konsumen sebesar 8,83%.
Di sisi konsumen, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tetap menjadi primadona dengan pangsa 70,05% dari total skema pembelian rumah di pasar primer. Sisanya, pembelian dilakukan melalui pembayaran tunai bertahap dengan pangsa 20,60% dan tunai sebesar 9,35%.