BENGKULU — Tim pengabdian FISIP Universitas Bengkulu menyasar kader Posyandu Seruni Kelurahan Malabero sebagai mitra dalam kegiatan tersebut. Peserta yang hadir seluruhnya warga lanjut usia dengan usia 60 tahun ke atas.
Rangkaian acara dibuka dengan senam lansia. Setelah itu, peserta menjalani sejumlah pemeriksaan kesehatan, mulai dari penimbangan berat badan, pengukuran tekanan darah, cek asam urat, hingga pengecekan kadar gula darah.
Mengapa Lansia Butuh Terapi Psikososial
Ketua tim pengabdian, Yessilia Osira, S.Sos., MP, menilai tidak semua lansia bisa menikmati masa tuanya dengan tenang. Sebagian masih terbayang pengalaman traumatis yang tidak menyenangkan atau luka batin.
"Melalui terapi psikososial, diharapkan para lansia dapat berdamai dengan masa lalunya, sehingga dapat menjalani kehidupan dengan lebih ringan dan bahagia," ujar Yessilia dalam sambutan pengantar kegiatan.
Sesi terapi dipandu Bayu Risdiyanto, pekerja sosial dari Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI) Bengkulu. Peserta diajak menggali pengalaman traumatis yang bisa memicu kemarahan, kesedihan, penyesalan, atau dendam berkepanjangan.
Dengan pendampingan terapis, para lansia diarahkan berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu. Mereka juga diminta menyusun rencana kehidupan yang lebih bahagia ke depan.
Posyandu Malabero Berharap Kegiatan Berlanjut Rutin
Ketua Posyandu Kelurahan Malabero, Rini, menyampaikan apresiasi kepada Universitas Bengkulu yang telah membantu pihaknya meningkatkan pelayanan bagi warga lanjut usia.
"Kami sangat berterima kasih kepada Universitas Bengkulu yang berkenan membantu posyandu dalam upaya melayani warga lansia di Kelurahan Malabero. Kami berharap ke depan kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan lebih rutin," kata Rini.
Harapan serupa datang dari dua peserta, Zanibar (79) dan Nila Kusma (78). Keduanya ingin kegiatan serupa digelar di luar jadwal posyandu. Menurut mereka, durasi yang lebih panjang akan membuat proses terapi berjalan lebih optimal dan manfaatnya lebih besar bagi para lansia.