Pencarian

Kakanwil Kemenag Bengkulu Saefudin Paparkan 4 Indikator Sikap Moderat di Forum Densus 88

Rabu, 07 Oktober 2026 • 09:01:01 WIB
Kakanwil Kemenag Bengkulu Saefudin Paparkan 4 Indikator Sikap Moderat di Forum Densus 88
Kakanwil Kemenag Bengkulu Saefudin memaparkan empat indikator sikap moderat dalam forum Densus 88 Anti Teror di Hotel Mercure Kota Bengkulu, Selasa (6/10/2026).

BENGKULU — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bengkulu Saefudin menilai perbedaan adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Karena itu, membangun kesadaran ideologi yang sehat dan moderat menjadi penting agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik, melainkan menjadi kekuatan dalam menjaga persatuan.

Pesan itu disampaikan Saefudin saat menghadiri kegiatan "Transformasi Ideologi, Jalan Menuju Wasathiyah" bertema "Membangun Kesadaran Baru Ideologi Sehat & Moderat" yang diselenggarakan Densus 88 Anti Teror di Hotel Mercure Kota Bengkulu, Selasa, 6 Oktober 2026.

"Kegiatan ini kita maknai sebagai upaya untuk mencari jalan tengah, bukan untuk saling menyalahkan. Kita harus mampu menerima perbedaan dan menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan bersama. Wasathiyah itu adalah sikap pendamai dan penengah," ujar Saefudin.

Empat Indikator Sikap Moderat Menurut Kakanwil Kemenag Bengkulu

Saefudin menyampaikan bahwa seseorang dapat dikatakan memiliki sikap moderat setidaknya tercermin melalui empat indikator utama, yaitu komitmen kebangsaan, anti kekerasan, toleransi, serta penghargaan terhadap kearifan lokal.

Indikator pertama, komitmen kebangsaan, ditunjukkan melalui kecintaan terhadap bangsa dan negara serta kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok.

Kedua, anti kekerasan, yakni kemampuan menyelesaikan persoalan dan perbedaan melalui dialog, musyawarah, serta pendekatan yang damai, bukan melalui tindakan kekerasan.

"Kalau ada persoalan dan perbedaan, mari kita selesaikan dengan dialog. Jangan menggunakan kekerasan. Dialog membuka ruang untuk saling memahami, sementara kekerasan justru memperlebar jarak dan menimbulkan persoalan baru," tegasnya.

Toleransi Bukan Mencampuradukkan Keyakinan

Indikator ketiga adalah toleransi, yaitu kesadaran untuk menerima kenyataan bahwa masyarakat memiliki perbedaan agama, keyakinan, latar belakang, maupun pandangan. Saefudin menekankan toleransi tidak berarti mencampuradukkan keyakinan, tetapi memberikan ruang kepada setiap orang untuk menjalankan keyakinannya dengan tetap menghormati hak orang lain.

Adapun indikator keempat adalah menghargai kearifan lokal. Menurut Saefudin, nilai-nilai lokal yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat dapat menjadi kekuatan sosial dalam membangun kehidupan yang rukun, damai, dan saling menghargai.

"Kearifan lokal adalah kekayaan kita. Nilai-nilai yang tumbuh di masyarakat perlu kita rawat karena di dalamnya terdapat semangat kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama. Ini harus menjadi bagian dari upaya kita membangun kehidupan yang moderat," ucapnya.

Moderasi Beragama Disebut Bukan Moderasi terhadap Agama

Saefudin menegaskan penguatan moderasi beragama bukan berarti melakukan moderasi terhadap agama. Menurutnya, tidak ada agama yang mengajarkan permusuhan. Setiap agama pada hakikatnya mengajarkan nilai-nilai perdamaian, kebaikan, dan kehidupan yang harmonis.

"Yang dimoderasi bukan agamanya, tidak ada agama yang mengajarkan permusuhan, yang diajarkan adalah perdamaian. Moderasi beragama hadir sebagai solusi dalam menyikapi perbedaan agama yang ada di tengah masyarakat kita," katanya.

Media Sosial Dinilai Perkuat Urgensi Moderasi

Kegiatan yang mengangkat isu transformasi ideologi tersebut dinilai relevan dengan tantangan kehidupan masyarakat saat ini. Di tengah perkembangan teknologi informasi dan media sosial, berbagai gagasan dan paham dapat menyebar dengan cepat. Masyarakat pun perlu memiliki kemampuan menyaring informasi dan memahami perbedaan secara bijak.

Saefudin mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan moderasi beragama sebagai gerakan bersama. Pemerintah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, aparat keamanan, serta masyarakat memiliki peran yang sama dalam menciptakan ruang sosial yang damai dan bebas dari kekerasan.

"Kita tidak mungkin menghilangkan perbedaan, yang harus kita bangun adalah kemampuan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Di situlah pentingnya moderasi, karena moderasi mengajarkan kita untuk tidak ekstrem, mampu menghargai perbedaan, dan tetap menjaga persatuan," tuturnya.

Follow lintasbengkulu.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: rri.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks