BENGKULU — Sertifikat kompensasi karbon diserahkan Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko Bursa Efek Indonesia (BEI) Abdul Munim bersama Kepala Pengembangan Carbon Trading dan Inisiatif Baru BEI Edwin Hartanto. Penyerahan menandai rampungnya proses pembelian dan penghapusan unit karbon atau retirement SPE-GRK di pasar karbon domestik.
Unit karbon yang dibeli berasal dari proyek Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) Sei Mangkei berkapasitas 2,4 megawatt di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Proyek itu memanfaatkan limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai sumber energi terbarukan.
Jejak Karbon Januari–Oktober 2026 Mencapai 98,5 Ton CO?e
Besaran kompensasi mengacu pada hasil pengukuran jejak karbon dari aktivitas operasional dan kegiatan strategis BI Bengkulu selama Januari hingga Oktober 2026. Hasil pengukuran mencatat emisi sekitar 98,5 ton CO?e.
Penghitungan mencakup penggunaan energi, operasional kendaraan, perjalanan dinas, serta penyelenggaraan kegiatan kelembagaan. Data itu menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi emisi yang lebih terukur.
Kepala Perwakilan BI Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat menyebut kompensasi karbon merupakan bagian dari transformasi berkelanjutan di institusinya.
"Inisiatif carbon offset merupakan bagian dari transformasi berkelanjutan yang kami lakukan untuk memastikan bahwa setiap aktivitas kelembagaan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan," ujar Wahyu.
500 Bibit Pohon Ditanam, Mangrove Ikut Dijaga
Di luar pasar karbon, BI Bengkulu menjalankan aksi penghijauan bersama pemerintah daerah, BUMN, TNI, kelompok tani, dan masyarakat. Hingga Oktober 2026, sebanyak 500 bibit pohon telah ditanam dan didistribusikan.
BI Bengkulu juga berpartisipasi dalam gerakan penanaman mangrove untuk menjaga ekosistem pesisir. Kolaborasi itu ditujukan memperluas kawasan hijau sekaligus menumbuhkan kepedulian warga terhadap kelestarian lingkungan.
Limbah Uang Kertas Jadi Listrik 14.485 kWh dan Paving Block
Komitmen ekonomi hijau tampak pula pada pengelolaan Limbah Racik Uang Kertas (LRUK). Sebanyak 12,6 ton LRUK dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif di PLN Nusantara Power, Muara Enim, Sumatera Selatan.
Pemanfaatan limbah itu menghasilkan lebih dari 14.485 kWh energi listrik. Residu hasil pembakaran LRUK kembali diolah menjadi bahan baku paving block.
Produk tersebut dipakai di area urban farming Program Jaga Dapur di lingkungan rumah dinas BI Bengkulu. Program itu mendorong pemanfaatan lahan produktif untuk ketahanan pangan rumah tangga, sekaligus membantu pengendalian inflasi melalui penguatan ketersediaan pangan.
Sinergi Diperluas ke Pemda hingga Akademisi
BI Bengkulu akan memperkuat budaya kerja ramah lingkungan melalui pengukuran emisi berkala, efisiensi operasional, pengelolaan limbah, penghijauan, serta evaluasi kebutuhan kompensasi karbon. Sinergi dengan pemerintah daerah, BUMN, dunia usaha, akademisi, dan komunitas akan diperluas untuk mendorong praktik ekonomi rendah karbon.
Rangkaian program itu menjadi kontribusi BI Bengkulu terhadap transisi ekonomi rendah karbon dan target Net Zero Emission Indonesia pada 2060 atau lebih cepat.