BENGKULU — Poltekkes Kemenkes Bengkulu menyasar generasi muda dalam upaya pencegahan tuberkulosis. Lewat program Pengembangan Program Desa Sehat (PPDS) 2026, para dosen memberikan edukasi langsung kepada siswa di dua sekolah, yakni SMPN 19 Kota Bengkulu pada 12 Juni 2026 dan SDN 77 Kota Bengkulu pada 21 Juli 2026.
Kegiatan mengusung tema "Kolaborasi Interprofesi dalam Pencegahan dan Penanggulangan Tuberkulosis". Tim pengabdian dipimpin Prof. Dr. Demsa Simbolon, SKM., M.KM., dengan anggota Okdi Natan S.Gz., M.Biomed; Lusi Andriani, SST, M.Kes; Efrizon Hariadi, SKM, MPH; Ns. Domianus Namuwali, S.Kep., M.Kep.; Chandra Buana, M.P.H.; dan Lisma Ningsih, A.Md.Kep., S.KM., M.KM.
Penyuluhan dikemas dengan pendekatan interaktif. Para siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga diajak mempraktikkan langsung langkah-langkah pencegahan penularan TBC.
Ketua tim pengabdian masyarakat menegaskan bahwa sekolah merupakan lingkungan strategis untuk membangun kesadaran kesehatan sejak dini.
"Program Desa Sehat 2026 menekankan pada sinergi dan edukasi berkelanjutan. Melalui kolaborasi interprofesi ini, kami memberikan edukasi pencegahan TBC yang tidak hanya menyasar aspek medis, tetapi juga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang bisa diterapkan siswa di sekolah maupun di rumah," jelasnya.
Di SDN 77 Kota Bengkulu, materi dikemas dekat dengan dunia anak. Efrizon Hariadi, dosen Jurusan Promosi Kesehatan, memperagakan cara batuk yang benar dan mengajak siswa mempraktikkannya bersama-sama.
Materi Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) juga disampaikan secara interaktif menggunakan lagu. Pendekatan ini membuat pesan kesehatan lebih mudah diterima dan diingat siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Pembiasaan sejak dini menjadi kunci. Ketika etika batuk dan kebiasaan mencuci tangan diperkenalkan di sekolah, perilaku tersebut diharapkan terbawa hingga ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
Metode lain diterapkan di SMPN 19 Kota Bengkulu. Materi disesuaikan dengan kelompok usia remaja agar pembahasan tentang TBC lebih relevan dengan kehidupan mereka.
Pada usia ini, siswa mulai mampu mengambil keputusan secara mandiri. Mereka juga berpotensi menjadi sumber informasi bagi teman sebaya dan keluarganya. Sekolah menjadi titik strategis untuk membangun generasi yang sehat secara fisik sekaligus memiliki literasi kesehatan yang baik.
Tim Poltekkes Kemenkes Bengkulu menekankan bahwa upaya pencegahan dan penanggulangan TBC tidak bisa dibebankan hanya kepada tenaga kesehatan. Penyakit menular ini membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, masyarakat, kader, hingga fasilitas pelayanan kesehatan.
Kolaborasi interprofesi digunakan untuk melihat masalah TBC secara menyeluruh. Bukan hanya soal mengobati orang yang sakit, tetapi juga menemukan kasus sedini mungkin, mencegah penularan, mengurangi stigma, mendukung kepatuhan pengobatan, dan menciptakan lingkungan yang mendukung pemulihan.