Data kepemilikan saham per akhir Juli 2026 menunjukkan pergeseran minat investor ritel terhadap saham berharga rendah. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mencatatkan penambahan jumlah investor tunggal tertinggi, yakni 37.426 akun atau setara pertumbuhan 27,31% dalam satu bulan.
Fenomena serupa terjadi pada PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) yang menempati posisi kedua dengan tambahan 33.306 akun. Secara persentase, COCO melesat 296,95% dalam sebulan, angka pertumbuhan tertinggi di antara seluruh emiten tercatat. Dalam rentang tiga bulan, akumulasi pertumbuhan investor COCO mencapai 303,38%.
Bank Mandiri Satu-satunya Big Cap di Lima Besar
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi satu-satunya saham berkapitalisasi besar yang masuk jajaran lima besar. Jumlah investor BMRI bertambah 17.911 akun, membawa total kepemilikan menjadi 389.720 akun SID (Single Investor Identification).
Masuknya BMRI ke daftar ini menunjukkan bahwa arus pembukaan rekening baru tidak hanya terpusat pada saham spekulatif, tetapi juga merambah saham perbankan berfundamental kuat. Hal ini sejalan dengan tren penguatan indeks sektor keuangan sepanjang kuartal kedua tahun ini.
Daftar Lengkap 15 Saham dengan Pertumbuhan Investor Tertinggi
Berikut rincian emiten dengan penambahan jumlah investor terbesar sepanjang Juli 2026:
- BNBR — tambahan 37.426 akun (27,31%)
- COCO — tambahan 33.306 akun (296,95%)
- BMRI — tambahan 17.911 akun
- VKTR — masuk lima besar dengan pertumbuhan signifikan
Faktor Pendorong Lonjakan Investor Baru
Lonjakan jumlah investor pada BNBR tidak terlepas dari aksi korporasi yang menarik perhatian pasar. Harga saham yang relatif terjangkau membuatnya mudah diakses investor ritel yang ingin membangun posisi tanpa modal besar.
Adapun pertumbuhan investor COCO yang eksponensial mengindikasikan adanya katalis spesifik pada bisnis perusahaan makanan ringan tersebut. Minat pasar terhadap saham konsumer cenderung meningkat menjelang periode libur akhir tahun.
Implikasi bagi Pergerakan Harga Saham
Pertambahan jumlah investor yang signifikan kerap menjadi indikator awal peningkatan likuiditas perdagangan. Semakin banyak pemegang akun, semakin besar potensi volume transaksi harian, yang pada gilirannya dapat memperkecil spread bid-ask.
Namun, lonjakan investor baru juga berpotensi meningkatkan volatilitas. Saham dengan basis investor ritel yang besar cenderung lebih responsif terhadap sentimen pasar jangka pendek dibandingkan saham yang didominasi investor institusi.
Investasi mengandung risiko. Data historis pertumbuhan jumlah investor tidak menjamin kinerja harga saham di masa mendatang.