BENGKULU — Pergerakan harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali memasuki zona koreksi. Logam Mulia, unit penjualan emas Antam, menetapkan harga jual turun tipis dari Rp 2.768.000 menjadi Rp 2.750.000 per gram. Penurunan senilai Rp 18.000 ini sekaligus menahan laju kenaikan yang sempat terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Selisih Harga Jual dan Buyback Masih Rp 140.000
Harga buyback atau nilai saat pemilik menjual kembali emasnya ke Logam Mulia juga turun dengan besaran sama, dari Rp 2.628.000 menjadi Rp 2.610.000 per gram. Artinya, selisih antara harga jual dan harga beli kembali (spread) tetap bertahan di angka Rp 140.000 per gram.
Angka spread ini menjadi catatan penting bagi calon pembeli. Pedagang Logam Mulia menjelaskan, dua harga yang dipublikasikan memiliki fungsi berbeda. Harga jual berlaku ketika konsumen membeli emas di gerai, sedangkan harga buyback menjadi acuan saat pemilik menjual emasnya kembali ke Antam.
Dengan selisih yang cukup lebar, strategi investasi jangka pendek dinilai kurang menguntungkan. Keuntungan baru terasa setelah harga pasar naik cukup tinggi untuk menutup selisih tersebut.
Investor Setahun Lalu Masih Untung 35 Persen
Meski hari ini terkoreksi, data historis menunjukkan tren kenaikan harga emas yang signifikan dalam setahun terakhir. Pembeli yang memutuskan investasi pada 26 Agustus 2025, saat harga masih Rp 1.932.000 per gram, kini menikmati keuntungan mencapai 35,09 persen.
Keuntungan bahkan jauh lebih besar bagi investor yang membeli lebih awal. Pembelian pada 26 November 2024 di harga Rp 1.499.000 per gram telah mengantongi keuntungan 74,12 persen. Sementara pembelian pada 26 Februari 2025 (Rp 1.694.000) menghasilkan keuntungan 54,07 persen.
Rugi Jika Beli di Titik Tertinggi
Di sisi lain, pembeli yang masuk di harga tinggi masih menanggung kerugian. Mereka yang membeli pada 26 Februari 2026 di level Rp 3.039.000 per gram saat ini mencatat penurunan nilai 14,12 persen. Begitu pula pembeli 26 Mei 2026 (Rp 2.798.000) yang mengalami depresiasi 6,72 persen.
Koreksi harian sebesar Rp 18.000 kali ini tidak banyak mengubah posisi investor jangka pendek. Pembelian pada 19 Agustus 2026 (Rp 2.645.000) tercatat rugi 1,32 persen, sementara pembelian 26 Juli 2026 (Rp 2.612.000) hanya turun tipis 0,08 persen.
Analis pasar menilai pergerakan ini wajar sebagai bagian dari siklus fluktuasi. Emas tetap dianggap sebagai aset lindung nilai yang cocok untuk strategi jangka panjang, dengan catatan investor bersedia menahan asetnya melewati periode koreksi.