BENGKULU — Penyelenggara Bazar Festival Tabut 2026 mengeluhkan menjamurnya pedagang liar di luar area resmi Lapangan Sport Center Kota Bengkulu. Kehadiran lapak-lapak ilegal itu membuat 10 stan di dalam arena bazar kosong tanpa peminat.
Para pedagang musiman ilegal ini berjualan di pinggir jalan dan area sekitar sport center, menjajakan aneka makanan, minuman, serta suvenir khas Tabut. Padahal, puluhan pelaku UMKM resmi telah membayar sewa stan untuk berjualan di dalam arena bazar yang telah disediakan panitia.
Keberadaan pedagang liar ini dinilai langsung menggerus potensi pendapatan para peserta resmi. Pembeli lebih memilih berbelanja di luar area karena akses yang lebih mudah dan tanpa hambatan masuk ke lokasi bazar.
Promotor bazar menyebutkan, dari total lapak yang disediakan, sebanyak 10 stan tidak ada peminatnya. Kondisi ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya saat okupansi stan bazar selalu penuh menjelang puncak perayaan Festival Tabut.
Lokasi strategis di luar pagar sport center menjadi daya tarik utama para pedagang ilegal. Mereka tidak perlu membayar biaya sewa stan dan bisa langsung menjangkau pengunjung yang datang dari berbagai arah.
Penyelenggara mengaku kesulitan menertibkan para pedagang liar tersebut karena keterbatasan wewenang di area publik. Mereka berharap Pemerintah Kota Bengkulu dan Satpol PP dapat turun tangan untuk menertibkan lapak-lapak ilegal itu selama perayaan festival berlangsung.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tindakan tegas dari aparat kewilayahan setempat untuk membubarkan pedagang liar di sekitar Lapangan Sport Center. Penyelenggara berencana mengajukan surat resmi ke Pemkot Bengkulu agar segera mengambil langkah pengamanan dan penertiban.
Festival Tabut merupakan agenda budaya tahunan di Kota Bengkulu yang selalu ramai dikunjungi wisatawan. Bazar UMKM yang menyertainya menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal yang terdampak langsung oleh praktik perniagaan ilegal ini.