Setelah menguji belasan gawai kamera — mulai dari kamera gantungan kunci Kodak Charmera hingga drone kencang DJI Avata 360 — Achanta menyusun daftar lima favoritnya. Menariknya, sebagian besar produk ini belum atau baru sebentar beredar di pasar Indonesia, tapi punya potensi besar untuk penggemar fotografi dan videografi di Tanah Air.
Posisi puncak ditempati DJI Avata 360, drone dengan dua lensa yang merekam video 8K 60fps tanpa garis sambung dan foto diam 120MP. "DJI, meski menghadapi larangan dan pengawasan ketat di AS, tak menunjukkan tanda-tanda berhenti," tulis Achanta yang telah menghabiskan hampir seribu jam menerbangkan dan menguji drone.
Drone ini bisa diterbangkan dengan dua mode: FPV (first-person view) dan kontroler standar. Perangkat lunak pengeditannya juga ramah pengguna. Harga yang lebih rendah dari pesaing menjadi nilai jual utama, meski belum ada informasi ketersediaan resmi di Indonesia.
Peringkat kedua adalah Leica SL3-P, kamera mirrorless yang dinilai Achanta sebagai yang terbaik di 2026 sejauh ini. Dengan sensor 44MP, perekaman video 8K Open Gate, dan kecepatan burst 40fps, kamera ini disebut mampu menyaingi Canon EOS R5 Mark II dan Sony A1 II yang banderolnya hampir sama.
"Leica selalu kesulitan bersaing dengan Canon dan Sony — sampai sekarang," ujar Achanta. Build quality dan handling yang superior menjadi nilai tambah, meski harganya masih di kisaran premium. Bagi fotografer satwa liar dan olahraga di Indonesia, kemampuan autofokus terbaik di kelasnya jadi pertimbangan serius.
Canon EOS R6 Mark III duduk di posisi ketiga. Kamera ini membawa sensor full-frame 32,5MP, burst 40fps, dan video 7K Open Gate serta 4K 120fps. Dukungan kartu CFExpress membuatnya mampu menangani file RAW 7K tanpa hambatan.
Achanta memotret lebih dari 6.000 frame dengan kamera ini dan terkesan dengan kemampuan autofokus yang cepat mengunci subyek — terutama untuk foto burung dan hewan. "Color science Canon tetap menjadi lapisan gula di atas kue," katanya.
Posisi keempat adalah DJI Osmo Pocket 4P, versi upgrade dari Osmo Pocket 4 yang sudah mendapat nilai sempurna 5/5. Perangkat ini memiliki dua lensa — salah satunya 60mm medium-telephoto — dan mendukung D-Log2 dengan dynamic range 17 stop.
Meski belum bisa dibeli, Achanta sudah mengujinya di Malta dan mengaku "gobsmacked" (terpukau) oleh kualitasnya. Ia menyarankan calon pembeli menunggu versi P daripada membeli model dasar yang sudah ada.
Posisi kelima justru kamera paling sederhana: Kodak Charmera. Dengan sensor CMOS 1,6MP seukuran 1/4 inci, kamera ini tidak menghasilkan foto berkualitas tinggi — tapi itulah pesonanya. "Gaya lo-fi-nya mengingatkan saya pada album foto keluarga," tulis Achanta.
Harganya sangat murah, bentuknya ringkas bisa digantung di kunci atau tas, dan pengoperasiannya semudah anak lima tahun atau paman 60 tahun. Kamera ini viral di TikTok dan Instagram awal 2026, cocok untuk pesta atau pernikahan yang ingin dokumentasi tanpa beban teknis.
Selain lima besar, Achanta juga menyoroti Fujifilm Instax mini Evo Cinema — kamera instan hybrid yang bisa merekam video 15 detik dan mencetaknya dengan QR code. Ada pula Fujifilm Instax mini 13 yang kembali ke dasar: kamera analog yang mencetak foto dalam 90 detik dengan warna retro.
Bagi pengguna Indonesia yang mencari alternatif drone mumpuni, Potensic Atom 3 disebut sebagai pesaing DJI yang layak dilirik. Dengan harga terjangkau, drone ini menawarkan video 4K 60fps, foto RAW, dan waktu terbang hingga 50 menit.