BENGKULU — Suzuki merencanakan pengembangan teknologi plug-in hybrid (PHEV) dan range extended electric vehicle (REEV) dalam peta jalan 10 tahun ke depan. Langkah ini mengejar ketertinggalan dari Toyota dan merek China yang sudah lebih dulu mengisi pasar mobil ramah lingkungan. Model Fronx disebut-sebut sebagai kandidat pertama penerima teknologi anyar tersebut.
Suzuki saat ini hanya mengandalkan mobil mild hybrid (MHEV), full hybrid, dan kendaraan listrik murni (BEV) di jajaran produk ramah lingkungannya. Tidak ada satu pun model PHEV yang dijual, sementara Toyota sudah menawarkan sejumlah model plug-in hybrid dan merek asal China terus membanjiri pasar dengan kendaraan sejenis.
Peta Jalan 10 Tahun Suzuki
Rencana pengembangan teknologi PHEV masuk dalam agenda jangka panjang Suzuki. Pabrikan asal Hamamatsu itu akan mengembangkan e-Axle yang mampu mendukung sistem plug-in hybrid, sebelum akhirnya diterapkan ke model produksi massal.
Selain PHEV, Suzuki mempertimbangkan teknologi REEV yang menjanjikan jarak tempuh lebih dari 1.000 kilometer. Mobil REEV sudah mulai dijual merek China, dan Suzuki tidak ingin ketinggalan terlalu jauh di segmen ini.
Mirip e-Power Nissan
Teknologi REEV Suzuki disebut memiliki kemiripan dengan e-Power milik Nissan. Mesin bensin berfungsi sebagai generator untuk mengisi baterai, sedangkan motor listrik menjadi satu-satunya penggerak roda. Cara kerja seperti ini mendekati karakter mobil listrik meski tetap membawa mesin pembakaran internal.
Untuk REEV, Suzuki berencana memakai mesin bensin berkapasitas kecil, setara mobil kei car atau LCGC di Indonesia. Pendekatan ini disebut sebagai "Light REEV" karena bobot kendaraan tidak terbebani mesin besar, sehingga jarak tempuh bisa lebih panjang.
Fronx Kebagian Duluan?
Belum ada pengumuman resmi soal model pertama yang akan memakai teknologi baru ini. Namun rumor yang beredar menyebut Fronx sebagai kandidat terdepan, meski versi tersebut kabarnya akan memakai mesin full hybrid, bukan mild hybrid seperti model yang dijual sekarang.
Peluang Fronx menerima teknologi PHEV dan REEV tetap terbuka mengingat segmen SUV kompak ramah lingkungan semakin ramai. Suzuki belum memastikan apakah penerapan teknologi ini akan dimulai pada 2027 atau beberapa tahun setelahnya.
Posisi Suzuki di Indonesia
Di pasar Indonesia, Suzuki baru memiliki satu mobil listrik, e Vitara, yang dirilis tahun lalu dengan banderol menembus Rp 750 jutaan. Harga tersebut tergolong tinggi untuk ukuran SUV kompak, sementara rival-rivalnya menawarkan fitur lebih lengkap dengan harga lebih terjangkau.
Harga e Vitara tidak jauh berbeda dari kembarannya dari Toyota, Urban Cruiser EV, meski keduanya didatangkan dari negara berbeda. Kondisi ini membuat Suzuki rentan tertinggal jika hanya mengandalkan satu model listrik tanpa kehadiran PHEV sama sekali.
Konfirmasi penambahan lini mobil ramah lingkungan menjadi sinyal bahwa Suzuki tidak akan berhenti pada MHEV dan BEV. Pabrikan ini berupaya mengejar ketertinggalan di pasar global yang semakin didominasi model PHEV dan BEV.