SELUMA — Ancaman kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Seluma kian nyata seiring masuknya puncak musim kemarau. Pemkab Seluma pun mengambil langkah antisipasi dengan mengerahkan personel pemadam kebakaran dalam status siaga penuh.
"Seluruh personel telah disiagakan untuk memberikan respons cepat apabila terjadi kebakaran di wilayah Kabupaten Seluma," kata Parlindungan Sianturi di Bengkulu, Senin.
Masyarakat yang menemukan titik api atau kebakaran diminta segera melapor agar api tidak sempat meluas. Laporan dapat disampaikan melalui call center Dinas Damkar Seluma di nomor 0878-6055-5773 yang beroperasi nonstop.
"Kami memastikan setiap laporan masyarakat akan segera ditindaklanjuti. Personel Damkar Seluma selalu siaga selama 24 jam untuk memberikan pelayanan dan penanganan kebakaran secepat mungkin," sebutnya.
Sianturi mengingatkan warga agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar maupun membakar sampah sembarangan. Kondisi cuaca panas dengan minim curah hujan membuat api mudah merambat dan sulit dikendalikan, terutama saat angin kencang.
Ia meminta masyarakat lebih berhati-hati saat menggunakan api, baik di lingkungan permukiman maupun area perkebunan dan lahan terbuka.
Peringatan serupa disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Bengkulu. Prakirawan BMKG, Pungki Saiful Akbar, menyebut musim kemarau di Provinsi Bengkulu telah berlangsung sejak Juni dan diprediksi berlanjut hingga Oktober 2026 akibat fenomena El Nino yang kuat.
"Kami mengimbau agar masyarakat tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar karena api dapat dengan cepat merambat saat kondisi angin kencang dan lingkungan dalam keadaan kering," ujar Pungki.
Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026. Pada periode tersebut, curah hujan akan semakin berkurang di sebagian besar wilayah Bengkulu. Fenomena El Nino bahkan diprediksi meningkat menjadi kategori sangat kuat dalam beberapa bulan ke depan, sehingga berpotensi menurunkan curah hujan secara signifikan dan meningkatkan risiko kekeringan.