BENGKULU — Tiga kabupaten di Provinsi Bengkulu harus bersiap menghadapi krisis air bersih. Dari total 128 kecamatan di provinsi ini, sebanyak 21 kecamatan masuk zona bahaya tinggi kekeringan, dan tidak ada satu pun kecamatan yang berstatus risiko rendah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Provinsi Bengkulu, Khristian Hermansyah, menyebut pemetaan tersebut berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI). Ia meminta warga di wilayah terdampak segera menghemat penggunaan air dan mewaspadai kebakaran hutan dan lahan.
Kategori bahaya tinggi berarti wilayah tersebut berpeluang besar mengalami kekeringan dengan cakupan terdampak luas. Ketersediaan air di lokasi ini dipastikan berada jauh di bawah kebutuhan normal warga.
Berikut sebaran 21 kecamatan yang masuk zona bahaya tinggi:
Khristian mengingatkan agar kewaspadaan tidak hanya ditujukan pada kekeringan. Ia memperingatkan potensi bencana susulan ketika musim kemarau berakhir.
"Kami mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak, tidak membakar lahan atau pekarangan selama musim kemarau, serta tetap waspada karena apabila kemarau panjang disusul hujan dengan intensitas tinggi, potensi banjir dan longsor juga bisa terjadi," jelas Khristian, Senin (3/8/2026).
BPBD meminta aparatur desa dan kecamatan di tiga kabupaten tersebut aktif memantau sumber air warga. Laporan dini dari lapangan diperlukan agar distribusi air bersih bisa dilakukan sebelum cadangan benar-benar habis.
Untuk Kabupaten Mukomuko, hampir seluruh kecamatan di pesisir barat Sumatra tersebut masuk zona merah. Kondisi ini menjadikan Mukomuko sebagai daerah dengan sebaran kekeringan tertinggi dibandingkan kabupaten lain di Bengkulu.