REJANG LEBONG — Angka prevalensi stunting di Kabupaten Rejang Lebong tercatat 14 persen berdasarkan survei tahun 2025. Angka itu masih jauh dari target nasional, sehingga pemerintah daerah menetapkan target baru yang lebih ambisius: menekannya hingga satu digit.
"Pemkab Rejang Lebong menargetkan angka stunting bisa turun menjadi satu digit atau di bawah 10 persen," kata Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Rejang Lebong Hendri Praja di Rejang Lebong, Jumat.
Capaian 14 persen ini sebenarnya sudah menunjukkan perbaikan. Sebelumnya, pada 2024, angka stunting di Provinsi Bengkulu sempat menyentuh 28 persen. Artinya, dalam kurun waktu singkat terjadi penurunan yang cukup drastis, meski pekerjaan rumah masih panjang.
Hendri menegaskan penanganan stunting tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Perlu keterlibatan semua organisasi perangkat daerah (OPD) agar intervensi berjalan menyeluruh, dari hulu ke hilir.
Untuk mempercepat penurunan angka tersebut, pemkab mengandalkan program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting). Fokusnya bukan sekadar pemberian makanan tambahan, tetapi intervensi kualitatif yang menyentuh akar masalah.
Beberapa langkah yang dilakukan antara lain:
Langkah ini diambil karena stunting tidak hanya soal asupan gizi anak, tetapi juga lingkungan tempat tinggal dan kemampuan ekonomi keluarga.
Ada perubahan struktur penanganan stunting di tingkat kabupaten. Tim Percepatan Penanganan Stunting (TPPS) yang sebelumnya diketuai wakil bupati kini dipimpin langsung oleh ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) di masing-masing daerah.
Perubahan ini diharapkan membuat perencanaan program lebih terukur dan terintegrasi dengan dokumen pembangunan daerah. Dengan begitu, anggaran dan program lintas OPD bisa diselaraskan.
Hendri berharap seluruh elemen masyarakat ikut berkomitmen mendukung program ini. Target di bawah 10 persen bukan sekadar angka, melainkan jaminan agar generasi mendatang di Rejang Lebong tumbuh lebih sehat dan berkualitas.