Gajah Liar di Bentang Seblat Bengkulu Ditemukan Makan Plastik dan Pakaian, 30.017 Hektare Habitat Telah Dirambah

Penulis: Fajar  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 18:20:01 WIB
Gajah liar di Bentang Alam Seblat, Bengkulu, ditemukan mengonsumsi sampah plastik dan pakaian bekas di dalam kotorannya.

BENGKULU — Temuan gajah liar yang mengonsumsi sampah plastik dan pakaian bekas di Bentang Alam Seblat menjadi alarm darurat bagi kelestarian gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus). Material yang sulit dicerna itu ditemukan petugas di dalam kotoran gajah yang masih hidup di kawasan tersebut.

Kondisi ini menunjukkan sumber pakan alami di habitatnya semakin kritis. Gajah yang terusir dari wilayah jelajahnya akhirnya berinteraksi dengan perkebunan dan permukiman warga yang menghasilkan sampah.

Jika dibiarkan, plastik yang tertelan berpotensi menyumbat sistem pencernaan dan mengancam nyawa satwa dilindungi tersebut.

Luas Perambahan Capai Seperempat Total Kawasan

Data Koalisi Bentang Alam Seblat mencatat 30.017 hektare habitat gajah telah dirambah dari total 112.504 hektare kawasan. Sebagian lahan yang dikuasai itu kemudian dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit ilegal.

Aktivitas penguasaan lahan disebut masih terus berlangsung hingga kini. Beberapa hari sebelum temuan ini, terdapat pertemuan antara kelompok perambah dengan staf ahli Menteri Kehutanan yang membahas potensi usulan perhutanan sosial di dalam habitat gajah.

Pemerintah Diminta Ungkap Pemodal di Balik Perambahan

Ketua Kanopi Hijau Indonesia sekaligus anggota Koalisi Bentang Seblat, Ali, menilai pengamanan kawasan tidak cukup hanya menyasar masyarakat di lapangan. Pihak yang menjadi pengendali atau pemodal di balik aktivitas perambahan harus diungkap.

"Menhut sudah datang, gubernur juga sudah menyatakan bahwa Bentang Alam Seblat merupakan kawasan penting sebagai habitat gajah dan satwa kharismatik lainnya. Seharusnya pemerintah segera merumuskan strategi dan taktik untuk mengamankan Bentang Seblat," kata Ali.

Perhutanan Sosial Berisiko Legalkan Penguasaan Lahan Skala Besar

Direktur Genesis Bengkulu, Egi Ade Saputra, menyebut adanya informasi kedatangan Staf Ahli Kementerian Kehutanan pada 15 Agustus 2026 yang bertemu Kelompok Tani Hutan di Sungai Rumbai, Mukomuko. Pertemuan itu dikaitkan dengan pembahasan usulan perhutanan sosial bagi penggarap kawasan Bentang Seblat maupun konsesi PT Bentara Agra Timber dan PT Anugerah Pratama Inspirasi.

Egi menegaskan persoalan tenurial memang membutuhkan solusi adil bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada lahan. Namun, penguasaan lahan skala besar harus dibedakan dengan kebutuhan masyarakat memperoleh ruang hidup.

"Jika seluruh persoalan disederhanakan menjadi 'petani membutuhkan tanah', terdapat risiko struktur penguasaan lahan yang lebih besar justru tidak pernah diperiksa," ujarnya.

Komitmen Penyelamatan Masih Sekadar Wacana?

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sempat mendatangi Bentang Alam Seblat pada 14 Desember 2025 setelah persoalan ini menjadi perhatian publik. Saat itu pemerintah menegaskan komitmen menyelamatkan kawasan tersebut sebagai habitat penting satwa kharismatik.

Komitmen serupa kembali mengemuka dalam pertemuan Koalisi Bentang Seblat dengan Gubernur Bengkulu Helmi Hasan pada Juni 2026. Kesepakatan menjaga habitat kunci gajah Sumatera pun dihasilkan, namun temuan gajah memakan plastik kini membuktikan krisis di lapangan justru semakin dalam.

Reporter: Fajar
Sumber: radarinformasinews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top