Parenting Baregbeg: Kunci Sinergi Orang Tua dan Guru Membentuk Karakter Anak RA

Penulis: Fajar  •  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 16:06:31 WIB
Seminar Parenting KKRA Baregbeg menghadirkan narasumber dari KPAID Tasikmalaya, Sabtu (29/8/2026).

BENGKULU — Menjadi orang tua murid Raudhatul Athfal (RA) punya tantangan tersendiri, ya, Bu. Waktu belajar di sekolah yang terbatas seringkali membuat pembentukan karakter anak terasa kurang maksimal jika tidak dilanjutkan di rumah. Justru di sinilah letak pentingnya sinergi antara guru dan orang tua, seperti yang tengah digalakkan di Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis.

Kelompok Kerja Raudhatul Athfal (KKRA) Kecamatan Baregbeg baru saja menggelar Seminar Parenting bertema "Menuju RA Aman, Berkarakter, serta Sekolah yang Ramah Akhlak dan Moral" di Gedung Dakwah Islam Baregbeg, Sabtu (29/8/2026). Acara ini menghadirkan Kepala Divisi Pemulihan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Tasikmalaya, Dede Sundara, sebagai narasumber utama.

Mengapa Buku Pemantauan Jadi Kunci Keberhasilan?

Alih-alih berhenti setelah seminar selesai, kegiatan ini punya mekanisme lanjutan yang menarik. Ketua KKRA Kecamatan Baregbeg, Mamah Mustaqimah, menjelaskan bahwa setiap orang tua tidak hanya menerima materi, tetapi juga sebuah buku atau rapor khusus. Buku ini berfungsi sebagai sarana pemantauan penerapan materi parenting di rumah.

"Setelah tiga bulan akan dikumpulkan kembali dan dilakukan follow up. Jadi kegiatan ini tidak berhenti hari ini, tetapi berkelanjutan," ujarnya. Dengan begitu, Ibu bisa mempraktikkan ilmu yang didapat, lalu mencatat perkembangannya, dan hasilnya dievaluasi bersama guru secara berkala.

Menyatukan Pola Asuh di Rumah dan Sekolah

Mamah menambahkan, latar belakang sosial, ekonomi, dan pendidikan orang tua yang beragam menjadi tantangan tersendiri dalam menyamakan pola pengasuhan. Padahal, proses pembelajaran di RA berlangsung dalam waktu yang terbatas. Jika guru mengajar dengan penuh kasih sayang di sekolah, tetapi di rumah anak tidak mendapatkan perlakuan serupa, hasilnya tidak akan sinergis.

"Kalau di sekolah guru mengajar dengan penuh cinta, tetapi di rumah tidak seperti itu, tentu tidak sinergis. Karena itu, kegiatan seperti ini dibentuk agar pendidikan di sekolah dan di rumah bisa berjalan bersama," jelasnya.

Membangun Lingkungan Ramah Anak dan Cegah Perundungan

Ketua KKRA Kabupaten Ciamis, Hj. Lalis Lismaidah, menekankan bahwa pembentukan karakter harus dilakukan bersama-sama. Ia menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, termasuk mencegah perundungan (bullying) dan membangun interaksi sosial yang baik antar anak.

"Di sekolah tidak ada pembullyan. Anak-anak harus saling menyapa dan bersosialisasi dengan baik. Selain itu, ketauhidan kepada Allah harus ditanamkan sehingga setiap perilaku anak dikaitkan dengan nilai-nilai keagamaan," tuturnya.

Lalis juga mengingatkan bahwa guru harus menjadi teladan yang baik (uswatun hasanah) bagi murid-muridnya. Nilai-nilai akhlak dan moral yang diajarkan harus tercermin dalam perilaku sehari-hari para pendidik, baik dari tindakan, perilaku, maupun ucapan.

Peran Aktif Kemenag dan Pengawas RA

Pengawas RA Kemenag Ciamis, H. Koyo, mengapresiasi langkah KKRA Baregbeg ini. Menurutnya, pertemuan antara orang tua dan seluruh unsur pendidikan adalah bagian penting dalam membangun karakter anak. Ia menilai RA di Kecamatan Baregbeg sudah menunjukkan kesiapan dalam membangun lingkungan pendidikan yang ramah anak, terlihat dari keterlibatan komite, yayasan, tenaga pendidik, hingga orang tua.

"Kegiatan parenting merupakan salah satu indikator respons dari pihak orang tua. Pelaksanaannya berjalan lancar dan menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter anak," pungkasnya. Dengan sinergi yang kuat antara keluarga, sekolah, dan Kemenag, harapannya anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan berkarakter mulia. Semoga inspirasi dari Baregbeg ini bisa ditiru oleh sekolah-sekolah lain di Indonesia, ya, Bu.

Reporter: Fajar
Sumber: asajabar.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top