BENGKULU — Lapas Kelas IIA Bengkulu menambah titik tempat pembuangan sampah terpisah di lingkungan blok hunian warga binaan. Kategori yang disediakan mencakup sampah organik dan anorganik, dengan target membangun kebiasaan memilah sejak dari sumbernya.
Kebijakan ini melibatkan petugas kebersihan atau tamping yang bertugas menjaga ketertiban di setiap blok. Sampah plastik yang terkumpul kemudian dijual, dan hasilnya diberikan sebagai premi kepada para tamping tersebut.
Premi untuk Tamping Kebersihan Jadi Motivasi Kerja
Kepala Lapas Kelas IIA Bengkulu, Julianto Budhi Prasetyono, menyebut pemberian premi merupakan bentuk apresiasi atas kerja para tamping. Ia berharap hal ini mendorong mereka menjalankan tugas lebih konsisten.
"Premi ini merupakan bentuk penghargaan atas kontribusi mereka. Namun yang paling penting adalah tumbuhnya kesadaran bahwa lingkungan yang bersih akan memberikan manfaat langsung bagi seluruh warga binaan dan petugas," ujar Julianto.
Julianto menambahkan, pengelolaan sampah adalah bagian dari proses pembinaan untuk membangun pola perilaku positif. Budaya hidup bersih diharapkan melekat dalam keseharian warga binaan, bukan sekadar rutinitas.
Mengapa Pemilahan Sampah Menjadi Bagian dari Pembinaan?
Menurut Julianto, keterlibatan warga binaan dalam pengelolaan lingkungan merupakan kunci menciptakan lapas yang sehat dan tertata. Penyediaan wadah terpisah di sejumlah titik strategis diarahkan untuk membentuk habitus baru di lingkungan hunian.
"Kami ingin budaya hidup bersih ini tidak hanya menjadi kegiatan rutin, tetapi menjadi kebiasaan yang melekat dalam keseharian warga binaan. Dengan menyediakan tempat sampah terpisah dan memberikan apresiasi dari hasil pengelolaan sampah, kami berharap muncul kesadaran bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab bersama sekaligus dapat memberikan nilai manfaat," jelasnya.
Dukungan terhadap Target Indeks Kesehatan Lingkungan Ditjenpas
Langkah ini sekaligus mendukung program Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) dalam meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan pada Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan. Targetnya, Indeks Kesehatan Lingkungan kategori Baik dapat tercapai.
Lapas Bengkulu berkomitmen mengembangkan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan. Pemilahan sampah organik dan anorganik, penyediaan tempat sampah di berbagai titik, serta peran aktif tamping kebersihan menjadi langkah konkret yang dijalankan.
Melalui skema ini, Lapas Bengkulu menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari pembinaan warga binaan. Nilai ekonomi dari sampah plastik menjadi bonus yang turut dirasakan para petugas kebersihan.