BENGKULU — Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar tidak mau menyia-nyiakan momen ini. Sekretaris Daerah Brampi Moriolkosu mengungkapkan pihaknya tengah melakukan inventarisasi terhadap usaha kecil menengah (UKM), kelompok tani, dan peternak setempat agar mampu terlibat langsung dalam rantai pasok proyek.
"Untuk UKM yang tidak aktif, kita aktifkan kemudian kita lakukan pendampingan untuk menyiapkan mereka agar mampu berkontribusi pada proyek strategis nasional ini," ujar Brampi dalam keterangan resminya, Rabu (29/7).
Kota Baru di Pulau Nustual dan Dampaknya ke Ekonomi Lokal
Blok Masela menyimpan cadangan gas mencapai 18,54 triliun kaki kubik (TCF). Selain LNG, proyek ini juga akan memproduksi 150 MMSCFD gas pipa untuk kebutuhan dalam negeri serta 35.000 barel kondensat per hari. Yang menarik, pembangunan kilang dilakukan di darat (onshore) di Pulau Nustual, bukan lepas pantai seperti kebanyakan proyek sejenis.
Anggota Komisi XII DPR Bambang Wuryanto menilai keputusan tersebut akan memicu pertumbuhan ekonomi masif. "Pulau Nustual yang menjadi lokasi pelabuhan dan kilang itu bisa jadi kota baru," katanya.
Pemerintah daerah juga tengah membangun akses jalan dan jembatan agar pulau-pulau kecil di sekitar Tanimbar bisa terhubung ke pusat kota. Brampi berharap program CSR dari INPEX dan SKK Migas bisa bersinergi dengan kebutuhan infrastruktur yang belum terjangkau APBD.
10.000–15.000 Pekerja Terserap, DPR Awasi Alokasi Gas Domestik
Pada puncak konstruksi nanti, proyek ini diperkirakan menyerap 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bambang optimistis insinyur lokal mampu mengambil peran besar melalui program pelatihan berkelanjutan.
"Pasti bisa nanti dengan pelatihan. Tenaga kerja kita akan terserap di sana. Ini adalah proyek yang benar-benar hebat; sudah lama kita tidak punya proyek gas yang cukup hebat setelah Tangguh," tegasnya.
Politisi PDIP itu juga menyoroti komitmen alokasi hasil produksi. Dalam Plan of Development (POD) tercatat 40 persen produksi Masela akan dipasok untuk kebutuhan energi domestik, meniru kesuksesan kilang LNG Bontang. DPR berkomitmen mengawasi realisasi tersebut melalui evaluasi work program and budget (WP&B) yang diajukan SKK Migas.
Risiko Inflasi dan Spekulasi Tanah Jadi Pekerjaan Rumah
Pengamat energi Riki F. Ibrahim mengingatkan bahwa masuknya ribuan pekerja ke Tanimbar bisa memicu gejolak ekonomi lokal. Inflasi daerah, spekulasi harga tanah, dan potensi konflik antara pekerja lokal dengan pendatang menjadi risiko yang harus dimitigasi sejak dini.
"Investasi senilai US$20,94 miliar ini merupakan game changer yang akan mendorong pemerataan ekonomi nasional (east-centric growth). Maluku berpotensi bertransformasi dari wilayah kepulauan berbasis agraris-kebaharian menjadi hub industri energi baru di Kawasan Timur Indonesia," kata Riki yang juga dosen senior Universitas Darma Persada.
Ia menambahkan, hak kelola Participating Interest (PI) sebesar 10 persen yang diberikan kepada Badan Usaha Milik Daerah menjadi instrumen penting agar keuntungan jangka panjang proyek ini benar-benar dinikmati masyarakat Maluku.
Dengan masa operasi yang panjang, Blok Masela kerap dijuluki "proyek abadi". Jika berjalan sesuai rencana, kawasan timur Indonesia tidak hanya akan menikmati pasokan energi yang stabil, tetapi juga pertumbuhan ekonomi yang selama ini timpang dibandingkan Jawa dan Sumatra.