Pencarian

Dinsos Kota Bengkulu Latih Pegawai Soal Sensitivitas Disabilitas di Panti Amal Mulia, Ini yang Dipelajari

Senin, 10 Agustus 2026 • 17:39:31 WIB
Dinsos Kota Bengkulu Latih Pegawai Soal Sensitivitas Disabilitas di Panti Amal Mulia, Ini yang Dipelajari
Pegawai Dinsos Kota Bengkulu mengikuti pelatihan peningkatan sensitivitas disabilitas di lingkungan Panti Amal Mulia.

BENGKULU — Puluhan pegawai Dinsos Kota Bengkulu mengikuti pelatihan yang berlangsung di lingkungan Panti Amal Mulia. Kegiatan ini bukan sekadar menambah wawasan teknis, tetapi juga bertujuan membangun kepekaan dan empati petugas saat melakukan pendampingan sosial di lapangan.

Dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan tidak ada lagi perlakuan diskriminatif terhadap penyandang disabilitas yang mengakses layanan pemerintah. Para peserta juga mendapat kesempatan berinteraksi langsung dengan anak-anak serta penyandang disabilitas yang tinggal di panti tersebut.

Pengalaman Nyata Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas

Interaksi langsung ini menjadi bagian penting dari pelatihan. Para pegawai tidak hanya mendengar teori, tetapi juga melihat sendiri berbagai potensi yang dimiliki penyandang disabilitas di Panti Amal Mulia.

Kepala Sekolah SD Amal Mulia, Hetty Hartati, menilai peningkatan sensitivitas ini perlu ditanamkan secara luas. Menurutnya, pemahaman yang baik akan mengikis cara pandang keliru yang selama ini menempel pada penyandang disabilitas.

“Mereka tidak semestinya hanya dilihat dari keterbatasannya, tetapi juga dari kemampuan, keinginan, dan potensi yang dapat dikembangkan,” ujar Hetty.

“Kepekaan dan kepedulian kita harus terus tumbuh dalam mendampingi penyandang disabilitas yang ada di Kota Bengkulu,” sambungnya.

Semangat Belajar yang Tak Pernah Padam

Guru Pendamping SD Amal Mulia, Firly, mengungkapkan bahwa anak-anak penyandang disabilitas memiliki motivasi kuat untuk berkembang. Dukungan dan pendampingan yang sesuai menjadi kunci agar mereka bisa maju.

“Semangat anak-anak untuk maju sangat kuat. Mereka terus berusaha, belajar, dan berani mencoba hal-hal baru,” kata Firly.

Salah satu contoh nyata datang dari Rekson, pemuda tunanetra berusia 24 tahun. Di tengah keterbatasan penglihatannya, Rekson mampu mengembangkan kemampuan bermain drum. Ia juga dinilai memiliki sikap positif dan kemauan besar untuk terus belajar.

Disabilitas Bukan Halangan untuk Mandiri

Pesan serupa disampaikan Nengsi, penyandang tunarungu berusia 19 tahun. Ia mengajak penyandang disabilitas lainnya untuk tidak berhenti mengasah kemampuan diri.

“Jangan menyerah dan tetap semangat. Kita harus terus belajar agar nantinya bisa bekerja dan mandiri,” ungkap Nengsi.

Firly menambahkan, pendekatan terhadap penyandang disabilitas membutuhkan empati dan penghargaan terhadap kesetaraan. Pendamping tidak boleh hanya fokus pada keterbatasan, melainkan harus memahami karakter dan kebutuhan masing-masing individu.

“Yang membedakan adalah cara kita berinteraksi dan strategi dalam mendampingi serta mengajar mereka,” jelasnya.

Membangun Pelayanan Publik yang Inklusif

Melalui pelatihan ini, Dinsos Kota Bengkulu diharapkan semakin siap menghadirkan pelayanan sosial yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Penguatan kapasitas pegawai menjadi fondasi penting dalam menciptakan pelayanan publik yang inklusif.

Kegiatan di Panti Amal Mulia juga menjadi pengingat bahwa membangun lingkungan inklusif tidak cukup hanya melalui kebijakan. Perubahan cara pandang dan sikap dalam berinteraksi menjadi bagian penting agar penyandang disabilitas mendapat kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, bekerja, dan hidup mandiri.

Follow lintasbengkulu.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: teropongpublik.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks