BENGKULU — Dua film horor berbiaya rendah, Obsession dan Backrooms, mencatat pendapatan gabungan lebih dari 900 juta dolar AS secara global. Capaian itu memicu gelombang pencarian bakat genre baru dari YouTube oleh studio dan produser. Namun sejumlah eksekutif penjualan dan investor menilai kesuksesan keduanya sebagai peristiwa langka yang tidak bisa dijadikan patokan arah industri.
Perbincangan soal dua film horor itu berlangsung di Creative Investors' Conference yang digelar di ajang San Sebastian Film Festival. Sejumlah eksekutif penjualan dan pembiayaan film hadir membahas bagaimana industri sebaiknya membaca fenomena Obsession dan Backrooms.
Raj Singh dari Media Capital Technologies menyebut kedua film tersebut sebagai "black swan events", yakni skenario yang sangat kecil kemungkinannya terjadi. Ia menekankan dua peristiwa langka itu terjadi bersamaan pada genre yang kurang lebih sama.
"And this was two black swan events happening at the same time, two movies in the same genre, more or less," ujar Singh. Menurutnya, fenomena itu tidak boleh menutupi kepekaan industri dalam menilai proyek mana yang berhasil dan mana yang tidak.
Mengapa Kesuksesan Obsession dan Backrooms Disebut Kebetulan Langka
Sarah Schweitzman dari CAA Media Finance menilai tidak ada yang bisa memprediksi kemunculan kedua film tersebut. Ia mengingatkan bahwa tahun depan bisa saja muncul film lain dengan genre berbeda yang sukses besar tanpa terduga, dan industri akan kembali bereaksi dengan cara yang sama.
"Nobody saw those two movies coming," kata Schweitzman. "So next year, when we have something that's completely different that's a phenomenal success that nobody saw coming, people will immediately want to go to that place and say, 'Oh, this is where the film business is moving.' But it's about the surprise of it."
Schweitzman menekankan inti persoalannya bukan pada genre, melainkan pada cara bercerita. Ia menyebut industri perlu terus mencari pendekatan baru agar lebih banyak penonton terlibat.
"Sometimes we get a little bit focused on the tropes that we think work in Hollywood, which is detrimental for local business," ujarnya. Pernyataan itu menyoroti risiko industri lokal kehilangan karakter ketika terlalu mengikuti pola yang dianggap berhasil di Hollywood.
Horor Bukan Satu-satunya Jalan Menuju Sukses
Laura Austin-Little dari Black Bear International menegaskan tidak ada genre yang bisa langsung didiskualifikasi. Menurutnya, kisah nyata yang kuat dan resonan secara universal bisa menjadi fondasi film yang berhasil.
"I just don't think you can disqualify any genre," kata Austin-Little. Ia menambahkan faktor sutradara yang tepat dan biaya produksi yang sesuai dengan anggaran menjadi penentu utama performa sebuah film.
Schweitzman juga menyoroti drama sebagai genre yang sering dipandang sebelah mata karena dianggap sulit dipasarkan. Ia lantas menunjuk Elsinore, film yang digarap bersama Studiocanal dan Focus Features serta digadang-gadang sebagai kandidat Oscar, sebagai contoh nyata.
"I think we all get really down about dramas, because they can be difficult," ujarnya. "But look at a movie like 'Elsinore'. It's something that people have really responded to. So it's really about having a great script and great vision from the filmmaker. I think it would be really sad if all of us just wrote off a certain genre because it's difficult."
Pelajaran bagi Industri Film Global
Diskusi di San Sebastian itu menggambarkan ketegangan antara dorongan mengejar tren dan kebutuhan menjaga keberagaman cerita. Dua film horor berbiaya rendah memang membuktikan genre tersebut masih punya pasar besar, tetapi para eksekutif mengingatkan bahwa meniru formula yang sama bukan jaminan hasil serupa.
Bagi industri film di pasar mana pun, termasuk Indonesia, catatan dari panel tersebut relevan. Kekuatan naskah, visi sutradara, dan kesesuaian biaya produksi tetap menjadi faktor yang lebih menentukan dibanding sekadar mengikuti genre yang sedang naik.