BENGKULU — Pertumbuhan sektor akomodasi di Provinsi Bengkulu menunjukkan tren yang timpang. Jumlah hotel non bintang melesat hingga 254 unit pada 2025, sedangkan hotel berbintang hanya bertambah sedikit.
Data dalam publikasi Provinsi Bengkulu Dalam Angka 2026 yang dirilis BPS mencatat kenaikan sembilan unit dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 245 hotel. Lonjakan ini mengindikasikan kebutuhan akomodasi di berbagai daerah terus bertambah, seiring meningkatnya aktivitas perjalanan dan pariwisata.
Mayoritas hotel berbintang masih terkonsentrasi di ibu kota provinsi. Dari 19 hotel berbintang yang beroperasi pada 2025, sebanyak 16 unit berada di Kota Bengkulu. Dua hotel berbintang lainnya tercatat di Kabupaten Bengkulu Selatan, dan satu unit di Kabupaten Rejang Lebong.
Kondisi ini menunjukkan bahwa investasi hotel berbintang belum merata ke seluruh kabupaten di Bengkulu. Padahal, sektor pariwisata di sejumlah daerah seperti Bengkulu Utara, Kaur, atau Seluma juga terus digenjot oleh pemerintah daerah.
Beberapa faktor bisa menjelaskan fenomena ini. Pertama, biaya investasi dan operasional hotel non bintang jauh lebih rendah dibandingkan hotel berbintang yang harus memenuhi standar klasifikasi ketat. Kedua, permintaan akomodasi murah dari kalangan pegawai negeri, kontraktor proyek, dan wisatawan lokal masih sangat tinggi.
Ketiga, banyak hotel non bintang yang justru lebih fleksibel dalam menyesuaikan harga dengan daya beli masyarakat Bengkulu. “Kami lebih memilih menginap di hotel non bintang karena harga kamar lebih terjangkau dan lokasinya strategis,” ujar seorang pelancong asal Curup yang ditemui di Kota Bengkulu, pekan lalu.
Dominasi hotel non bintang memiliki sisi positif dan negatif. Di satu sisi, ketersediaan akomodasi murah bisa mendorong kunjungan wisatawan dengan anggaran terbatas. Di sisi lain, minimnya hotel berbintang berpotensi menghambat kedatangan wisatawan asing atau peserta konferensi yang menuntut standar layanan tertentu.
Pemerintah Provinsi Bengkulu sendiri belum mengeluarkan kebijakan khusus untuk mendorong investasi hotel berbintang di daerah. Namun, data BPS ini bisa menjadi sinyal bagi investor bahwa pasar akomodasi premium di Bengkulu masih sangat terbuka.
Dengan 254 hotel non bintang yang tersebar di berbagai kabupaten, sektor ini menjadi tulang punggung akomodasi bagi sebagian besar pengunjung. Pertanyaannya, akankah pemerintah daerah mulai memberikan insentif agar hotel berbintang juga tumbuh di luar Kota Bengkulu?