BENGKULU — Tekanan pada rupiah masih berlanjut di sesi pembukaan hari ini. Berdasarkan data pasar, mata uang Garuda diperdagangkan di Rp 17.864 per dolar AS pada pukul 09.38 WIB, memperpanjang tren negatif yang sudah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Yang menarik, pelemahan kurs ini tidak diikuti oleh bursa saham. IHSG justru mencatatkan penguatan ke level 6.217, menunjukkan adanya divergensi antara pasar uang dan pasar modal.
Kurs di Tiga Bank Sudah di Atas Rp 17.900
Bagi masyarakat atau korporasi yang membutuhkan dolar AS hari ini, harga yang harus dibayar lebih mahal. Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) kompak memasang kurs jual di atas Rp 17.900 per dolar AS. Berikut rincian kurs di masing-masing bank pada pukul 09.38 WIB:
BCA menawarkan kurs jual e-Rate di Rp 17.898 per dolar AS, sementara untuk transaksi melalui TT Counter dan Bank Notes, harga jualnya lebih tinggi lagi, yakni Rp 17.940. Untuk nasabah dengan transaksi besar di atas 25.000 dolar AS, BCA menyediakan Special Rate dengan kurs jual Rp 17.895.
Bank Mandiri membanderol kurs jual untuk transaksi TT Counter dan Bank Notes di level Rp 17.940 per dolar AS. Sedangkan untuk transaksi bernilai besar, Mandiri memberikan kurs jual spesial di Rp 17.925.
BNI juga tak ketinggalan. Bank pelat merah ini memasang kurs jual TT Counter dan Bank Notes di angka Rp 17.940 per dolar AS. Khusus nasabah dengan transaksi di atas 25.000 dolar AS, BNI menawarkan kurs jual spesial Rp 17.925.
Selisih Tipis, Beli Dolar di Mana Paling Murah?
Bagi yang hendak membeli dolar, selisih kurs antar bank terbilang tipis. Untuk transaksi ritel via e-Banking, kurs beli BCA di Rp 17.878 menjadi yang paling kompetitif. Sementara itu, Mandiri dan BNI menawarkan kurs beli yang lebih murah untuk transaksi tunai, yakni Rp 17.625 per dolar AS untuk Bank Notes.
Perlu dicatat, kurs yang dipublikasikan merupakan kurs indikasi. Bank biasanya menerapkan kurs khusus untuk transaksi dengan nilai nominal tertentu. Nasabah disarankan menghubungi cabang terdekat untuk mendapatkan kepastian kurs sebelum melakukan transaksi valas.
Apa yang Terjadi pada Rupiah?
Pelemahan rupiah pagi ini tak lepas dari penguatan dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS masih perkasa, menekan hampir seluruh mata uang emerging market, termasuk rupiah. Di sisi lain, penguatan IHSG menunjukkan bahwa investor asing masih cukup percaya diri terhadap fundamental ekonomi domestik, meski tekanan nilai tukar belum mereda.
Pelaku pasar kini menanti langkah Bank Indonesia selanjutnya. Intervensi ganda—baik di pasar spot maupun Surat Berharga Negara (SBN)—diperkirakan masih akan terus dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas global yang tinggi.