BENGKULU — Pelemahan yen terus berlanjut setelah dolar AS menguat akibat sinyal kenaikan suku bunga dari Federal Reserve. Dalam perdagangan di New York, yen sempat jatuh ke 161,81 per dolar AS, level terlemah sejak Juli 2024. Secara historis, posisi ini mendekati titik terendah dalam lebih dari 39 tahun terakhir.
Pemerintah Jepang kembali mengirim sinyal keras ke pasar. Menteri Keuangan Satsuki Katayama menyatakan tidak ada perubahan dalam sikap otoritas untuk mengambil langkah tegas. “Tidak ada perubahan sama sekali dalam sikap kami untuk mengambil tindakan tegas,” kata Katayama kepada wartawan, Jumat (19/6), seperti dikutip Kyodo News.
Pernyataan itu memicu spekulasi bahwa Bank of Japan (BOJ) bersama Kementerian Keuangan akan kembali melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing. Intervensi dilakukan dengan membeli yen dan menjual dolar AS untuk menahan laju pelemahan.
Pelemahan yen menjadi tekanan serius bagi perekonomian Jepang. Negara itu sangat bergantung pada impor energi karena minim sumber daya alam. Ketika yen melemah, biaya impor energi ikut naik dan berpotensi menambah beban rumah tangga maupun dunia usaha.
Data Kementerian Keuangan Jepang menunjukkan otoritas telah menghabiskan dana rekor 11,73 triliun yen atau sekitar 73 miliar dolar AS untuk intervensi pasar valuta asing selama periode 28 April hingga 27 Mei. Langkah tersebut sempat membantu yen menguat ke sekitar 155 per dolar AS, namun penguatan itu tidak bertahan lama.
Penguatan dolar AS kembali terjadi setelah Federal Reserve memberi sinyal siap menaikkan suku bunga dalam satu tahun ke depan karena kekhawatiran inflasi. Investor pun memborong mata uang Amerika Serikat itu sebagai aset aman. Situasi ini diperparah oleh konflik Timur Tengah yang mendorong permintaan dolar semakin tinggi.
Akibatnya, tekanan terhadap yen belum mereda. Pasar terus mencermati langkah berikutnya dari otoritas Jepang. Di satu sisi pemerintah ingin menahan pelemahan yen, di sisi lain setiap intervensi membutuhkan dana yang tidak sedikit sementara tekanan dari penguatan dolar AS masih berlanjut.