KOTA BENGKULU — Budaya literasi di kalangan generasi muda Kota Bengkulu kini mendapat angin segar. Pemerintah Kota Bengkulu melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan resmi mengoperasikan aplikasi perpustakaan digital bertajuk "Pustaka di Ujung Jari" yang memungkinkan masyarakat mengakses ratusan buku hanya melalui gawai.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Bengkulu Muklis menyatakan, inovasi ini merupakan jawaban atas tantangan zaman di tengah derasnya arus digitalisasi yang kerap menggeser minat baca terhadap buku cetak.
"Di tengah perkembangan digitalisasi, perpustakaan tidak boleh tertinggal. Karena itu kami menghadirkan inovasi Pustaka di Ujung Jari agar masyarakat bisa membaca buku kapan saja tanpa harus datang langsung ke perpustakaan," kata Muklis di Bengkulu, Sabtu.
Aplikasi tersebut saat ini telah mengakomodasi sebanyak 400 lebih judul buku dari berbagai kategori. Koleksi tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan beragam kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, hingga masyarakat umum yang haus akan referensi bacaan.
Seluruh koleksi e-book dalam aplikasi dapat diakses melalui perangkat digital apa pun. Kemudahan akses ini diharapkan mampu menjembatani kebutuhan masyarakat akan referensi yang cepat dan praktis di era serba digital.
Yang menarik, inovasi ini bukan berasal dari pihak ketiga. Muklis mengungkapkan bahwa layanan tersebut merupakan buah kreativitas aparatur Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Bengkulu dalam mengembangkan layanan berbasis teknologi informasi.
"Ini merupakan salah satu inovasi yang lahir dari pegawai kami. Kami ingin masyarakat semakin mudah memperoleh bahan bacaan sehingga budaya literasi dapat terus tumbuh meski di era serba digital," ujarnya.
Harapan besar digantungkan pada generasi muda yang dinilai lebih akrab dengan perangkat digital dibandingkan buku fisik. Dengan kemudahan akses satu genggaman, Pemkot Bengkulu optimistis minat baca masyarakat akan meningkat signifikan.
Kehadiran aplikasi ini menandai transformasi fungsi perpustakaan di Kota Bengkulu. Lembaga tersebut tak lagi sekadar menjadi tempat menyimpan buku, melainkan pusat literasi yang tidak dibatasi ruang dan waktu.
"Kami ingin perpustakaan tidak hanya menjadi tempat menyimpan buku, tetapi juga menjadi pusat literasi yang dapat diakses oleh siapa saja melalui teknologi. Semakin mudah aksesnya, kami optimistis minat membaca masyarakat juga akan meningkat," demikian Muklis.