BENGKULU — Perang dagang Amerika Utara memasuki babak paling sengit. Setelah meja perundingan runtuh, pemerintahan Trump resmi memberlakukan bea masuk 50 persen untuk produk otomotif asal Kanada, mencakup truk ringan, truk berat, kendaraan penumpang, dan komponen. Nilai barang yang terdampak diperkirakan mencapai US$ 20-28 miliar atau setara Rp 320-448 triliun (kurs Rp 16.000).
Kanada menyatakan siap membalas dengan tarif serupa untuk barang-barang Amerika seperti baja, susu, elektronik, hingga anggur mulai 8 September. Yang paling terpukul adalah pabrikan yang punya fasilitas produksi di dua negara—mereka kini menanggung biaya ekstra untuk setiap truk dan SUV yang dirakit di utara.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengonfirmasi bahwa kebuntuan terjadi karena dua isu teknis yang tak bisa didamaikan. Pertama, Washington menolak memberikan keringanan tarif untuk truk medium dan heavy-duty. Relaksasi hanya berlaku untuk kendaraan ringan, sementara truk komersial tetap kena bea 25 persen yang sudah berlaku sejak April 2025.
"Mereka meminta terlalu banyak, dan menawarkan terlalu sedikit. Kami tidak siap mengorbankan kedaulatan Kanada atau melemahkan industri kunci kami," tegas Carney dalam konferensi pers akhir pekan lalu, seperti dilaporkan CNN.
Isu kedua yang memicu deadlock adalah cakupan pengecualian komponen. Aturan saat ini mengizinkan pengurangan tarif untuk suku cadang asal Amerika yang dipasang di kendaraan buatan Kanada. Karena separuh komponen truk Kanada biasanya berasal dari AS, tarif efektif yang dibayar hanya sekitar 12,5 persen, bukan 25 persen penuh.
Delegasi Kanada mendesak agar pengecualian diperluas ke komponen buatan Kanada dan Meksiko. Jika disetujui, tarif efektif kendaraan Kanada yang masuk AS bisa turun drastis ke angka 3,5 persen. Namun Washington menolak mentah-mentah, dan negosiasi pun berakhir tanpa kesepakatan.
Kegagalan diplomasi ini menempatkan pabrikan pada posisi sulit. Setiap truk pikap besar dan SUV yang diekspor dari pabrik Kanada ke AS kini terkena bea 50 persen—naik dua kali lipat dari tarif sebelumnya. Alih-alih menyerap biaya, pabrikan hampir pasti mengalihkan beban ini ke konsumen melalui harga window sticker yang lebih tinggi.
Kondisi ini terjadi di saat harga kendaraan di AS sudah berada di level tertinggi. Memo internal industri memperkirakan lonjakan biaya produksi akan langsung terlihat pada label harga kendaraan yang dipasarkan di dealer-dealer Amerika dalam beberapa bulan ke depan.
Konflik ini berakar dari pelanggaran perjanjian dagang USMCA. Pada April 2025, Trump memberlakukan tarif 25 persen untuk kendaraan rakitan Kanada, yang segera dibalas Ottawa dengan tarif serupa untuk mobil Amerika. Kedua belah pihak sempat mencoba merundingkan solusi, tetapi perbedaan fundamental soal truk komersial dan komponen membuat jalan tengah mustahil dicapai.
Carney juga menyebut ada tuntutan tambahan dari AS yang dinilai tidak masuk akal—membatasi kemampuan Kanada menjalin perjanjian dagang dengan negara lain dan melemahkan perlindungan bahasa Prancis. Tuntutan-tuntutan ini disebutnya "tidak ekonomis dan tidak adil".
Dengan gagalnya kesepakatan, industri otomotif Amerika Utara kini beroperasi di bawah rezim tarif paling agresif dalam sejarah modern. Pabrikan yang selama puluhan tahun mengandalkan rantai pasok terintegrasi lintas batas harus menghitung ulang biaya produksi mereka—dan konsumen yang akan membayar tagihannya.