BENGKULU — Pernyataan itu disampaikan Destry dalam acara Sarasehan 100 Ekonom di Jakarta, Kamis (3/9/2026). Ia mengakui laju pertumbuhan Indonesia memang belum bisa menandingi Vietnam, tetapi struktur ekonomi kedua negara memiliki tingkat kompleksitas yang jauh berbeda.
"Jadi kalau kita bandingkan negara lain, Indonesia itu sebenarnya posisinya tidak jelek. Ya, dari sisi pertumbuhan ekonomi ya kita mungkin kalah sama Vietnam tadi disampaikan. Tapi kan karakter kita beda dengan Vietnam ya, kompleksitas juga masih beda," ujarnya.
Daripada mengejar pertumbuhan tinggi semata, Destry menyoroti kualitas pertumbuhan Indonesia yang dinilai lebih sehat. Buktinya, inflasi domestik masih berada di zona yang masuk akal, jauh berbeda dari Vietnam yang harus berkompromi dengan tekanan harga tinggi.
"Vietnam dia boleh ekonomi tinggi tapi inflasi dia di atas, 4,5%, 5% seperti itu. Kemudian dari sisi inflasi kita juga manageable," jelas Destry.
Selain inflasi, ia juga menyoroti kondisi fiskal yang dijaga ketat oleh pemerintah. Defisit anggaran dipatok dalam rentang aman, menunjukkan disiplin yang berkelanjutan di tengah dorongan untuk mengakselerasi pertumbuhan.
Kendati fundamental makro terlihat solid, Destry mengingatkan bahwa laju ekspansi ekonomi saat ini belum mencapai potensi maksimalnya. Artinya, masih ada ruang untuk berakselerasi lebih cepat demi mengejar ketertinggalan dari negara tetangga.
Untuk itu, ia menilai percepatan tidak bisa dilakukan sendiri oleh satu institusi. Dibutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, bank sentral, pelaku usaha, dan ekonom untuk merumuskan strategi bersama menghadapi tantangan yang makin kompleks.
"Nah oleh karena itu, mari kita bergandengan tangan, kita bergerak bersama-sama dengan kekuatan masing-masing, kita saling melengkapi menuju satu tujuan yang sama. Jadi buat saya sinergi merah putih itu ada sesuatu yang harus kita lakukan ke depannya," kata Destry.