Perubahan Otak Ibu Hamil Menurut Studi: Dari Baby Brain hingga Adaptasi

Penulis: Saiful  •  Rabu, 28 Oktober 2026 | 09:06:02 WIB
Pemindaian otak ilmuwan selama kehamilan menunjukkan penyusutan volume materi abu-abu hingga 4 persen di hampir 80 persen area otak.

BENGKULU — Pemindaian otak seorang ilmuwan selama kehamilan menunjukkan volume materi abu-abu menyusut hingga 4 persen di hampir 80 persen area otak. Perubahan ini bukan gangguan, melainkan bentuk adaptasi tubuh yang bertahan sampai dua tahun setelah melahirkan. Simak penjelasan studi terbarunya di sini.

Penelitian yang diterbitkan di Nature Neuroscience pada 2024 memetakan otak manusia sepanjang masa kehamilan untuk pertama kalinya. Pemindaian dilakukan terhadap Elizabeth Chrastil, ilmuwan dari University of California, Irvine, yang saat itu sedang menjalani program bayi tabung.

Hasilnya, volume materi abu-abu di hampir 80 persen wilayah otak Chrastil berkurang sekitar 4 persen. Materi abu-abu sendiri adalah jaringan yang mengontrol gerakan, emosi, dan ingatan. Sebagian besar perubahan itu hanya sedikit pulih setelah persalinan.

Apa Itu Baby Brain dan Mengapa Ibu Mengalaminya

Banyak ibu mengenal istilah pregnancy brain atau baby brain untuk menggambarkan rasa mudah lupa dan linglung selama hamil. Keluhan ini nyata dirasakan, meski penjelasan ilmiahnya masih terus diteliti.

Para peneliti menyebut perubahan otak saat hamil mirip dengan yang terjadi di masa pubertas. Pada studi hewan pengerat, perubahan serupa membuat calon induk lebih sensitif terhadap bau dan cenderung merawat diri serta menyiapkan sarang.

"Namun manusia jauh lebih rumit," kata Chrastil, dikutip dari BBC News.

Perubahan Otak Bertahan hingga Dua Tahun Usai Melahirkan

Studi Nature Neuroscience menemukan perubahan pada wilayah otak yang terkait sosialisasi dan pemrosesan emosi masih terlihat jelas dua tahun setelah melahirkan. Temuan ini diharapkan membantu pemahaman tanda awal depresi pascapersalinan dan preeklamsia.

"Ini adalah peta rinci pertama otak manusia selama masa kehamilan," ujar Emily Jacobs, penulis studi dan ahli saraf dari University of California, Santa Barbara.

Jacobs menambahkan, otak manusia belum pernah diamati mengalami proses metamorfosis seperti ini secara real time. Pemindaian berulang pada satu orang memungkinkan peneliti melihat perubahan dari trimester ke trimester.

Studi Lain: Baby Brain Disebut Bukan Penurunan Kognitif

Penelitian selama 10 tahun di Australian National University, Canberra, justru menyimpulkan baby brain sebagai mitos urban. Proyek yang dipimpin Profesor Helen Christensen mewawancarai 2.500 perempuan berusia 20 hingga 24 tahun pada 1999, lalu pada 2004 dan 2008.

Perempuan yang hamil selama wawancara gelombang kedua atau ketiga menunjukkan kinerja sama pada tes logika dan memori. Tidak ada perbedaan antara ibu hamil dan kelompok kontrol.

"Perempuan sering melaporkan masalah dengan ingatan dan penalaran setelah mereka hamil. Tetapi temuan dari studi kami selama satu dekade membuktikan bahwa masalah tersebut tidak bersifat permanen," kata Christensen, dikutip dari The Guardian.

Mengapa Hasil Studi Bisa Berbeda

Christensen menduga ibu hamil memperhatikan sedikit penurunan kemampuan mental lalu mengaitkannya dengan kehamilan. Kurang tidur juga bisa menutupi efek kognitif positif yang sebenarnya terjadi.

Perbedaan metode menjelaskan hasil yang tampak bertentangan. Studi Chrastil memindai struktur otak satu orang secara detail, sementara studi Christensen mengukur performa tes kognitif pada ribuan perempuan. Keduanya memberi gambaran berbeda tentang hal yang juga berbeda.

Kapan Perlu Berkonsultasi ke Dokter

Perubahan suasana hati dan rasa lelah di trimester ketiga termasuk wajar. Chrastil sendiri mengaku tidak mengalami pikiran kabur, tetapi merasa lebih lelah dan emosional menjelang persalinan.

Ibu sebaiknya berkonsultasi ke dokter bila merasa sedih berkepanjangan, kehilangan minat pada aktivitas, sulit tidur meski bayi sedang tidur, atau muncul keluhan fisik seperti sakit kepala hebat dan pandangan kabur. Keluhan terakhir perlu diwaspadai sebagai tanda preeklamsia.

Perubahan otak selama hamil adalah bagian dari adaptasi tubuh menyambut bayi, bukan tanda kemampuan berpikir menurun. Memahami prosesnya membantu ibu lebih tenang menjalani kehamilan tanpa menyalahkan diri saat lupa hal kecil.

Reporter: Saiful
Sumber: haibunda.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top