BENGKULU — Proyek strategis revitalisasi Pelabuhan Pulau Baai yang sempat terhambat sedimentasi parah kini menunjukkan titik terang. General Manager PT Pelindo Regional 2 Bengkulu, Dimas Rizky Kusmayadi, mengonfirmasi bahwa pengerukan alur pelayaran telah menyentuh kedalaman 6,5 LWS (Low Water Springs), sesuai target yang diamanatkan Instruksi Presiden.
“Alur pelayaran saat ini posisinya sudah menyentuh tingkat kedalaman hingga 6,5 LWS, hal ini sudah sesuai dengan target yang diamanatkan dalam Inpres,” jelas Dimas dalam kunjungan kerja DPRD Provinsi Bengkulu ke kantornya, Selasa (30/6) lalu.
Target Kedalaman 12 LWS dan Skema Perawatan Berkala
Pengerukan tidak berhenti di angka tersebut. Pelindo berkomitmen mengakselerasi target kedalaman ideal hingga 12 LWS. Sistem perawatan Alur Pelayaran Barat Sumatera akan dilakukan secara berkala agar kapal kargo berbobot besar bisa keluar masuk tanpa terkendala pendangkalan.
“Pengerukan akan terus kami akselerasi menuju target ideal 12 LWS. Skema maintenance alur juga tetap berjalan intensif,” ujar Dimas.
Dinding Regulasi Hambat Investor Masuk ke Kawasan Industri
Meski jalur laut mulai membaik, pengembangan klaster kawasan industri di darat masih mandek. PT Pelindo Regional 2 Bengkulu telah merampungkan studi kelayakan (Feasibility Study) untuk kawasan industri di perimeter pelabuhan. Namun, realisasi investasi fisik terganjal status Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bengkulu.
“Dalam aturan tersebut, kawasan pelabuhan masih dikunci sebagai zona transportasi dan angkutan semata, bukan kawasan industri. Akibatnya, para investor belum bisa mengurus perizinan masuk,” papar Dimas.
Selain itu, usulan pembiayaan infrastruktur jalan penunjang di area pelabuhan yang diajukan sejak akhir 2025 ke Pelindo Pusat hingga Mei 2026 belum disahkan. Penyebabnya adalah penyesuaian harga material bangunan (escalation price).
Ekspor CPO Mulai Beralih, Pertumbuhan Ekonomi Ditarget 7 Persen
Wakil Ketua I DPRD Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain, menilai normalisasi alur ini sebagai momentum memusatkan seluruh pintu keluar komoditas unggulan Bengkulu. Ia mencontohkan, pengiriman CPO lokal yang sebelumnya harus menempuh jalur darat ke Pelabuhan Teluk Bayur di Sumatera Barat, kini perlahan mulai dialihkan lewat Pulau Baai.
“Harapan besar kita adalah seluruh aktivitas ekspor dari Bengkulu wajib terkonsentrasi melalui Pelabuhan Pulau Baai. Kita punya kekayaan komoditas yang melimpah, mulai dari kopi, karet, CPO, hingga batu bara,” kata Teuku.
Ia menambahkan, jika optimalisasi alur laut dan pelimpahan komoditas berjalan linier, pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu mampu terdongkrak minimal 7 persen. Angka ini sekaligus menjadi sokongan riil daerah untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.