BENGKULU — Pasar smartphone murah di Indonesia tengah mengalami pergeseran fundamental. Jika beberapa tahun lalu ponsel Rp1 jutaan identik dengan layar biasa, memori pas-pasan, dan kamura seadanya, kini standar kompetisinya telah berubah total. Produsen tidak lagi hanya bersaing menekan harga, melainkan juga menawarkan spesifikasi yang dulu hanya milik kelas premium.
Layar AMOLED 120Hz Jadi Fitur Wajib
Panel AMOLED dengan refresh rate 120Hz perlahan menjadi fitur yang dicari di kelas harga Rp1 jutaan. Teknologi ini memberikan warna lebih hidup, kontras tinggi, serta hitam yang pekat—kualitas yang sebelumnya hanya ditemukan di ponsel flagship.
Dengan refresh rate 120Hz, aktivitas menggulir media sosial, bermain game, hingga menonton video terasa lebih mulus. Menurut TechRadar, adopsi layar AMOLED dan refresh rate tinggi di segmen entry-level kini menjadi nilai jual utama karena permintaan konsumen yang tinggi.
Penyimpanan 128 GB Kini Jadi Titik Awal
Kapasitas penyimpanan juga mengalami lompatan. Jika sebelumnya ponsel murah hanya dibekali memori 64 GB, kini konfigurasi 128 GB mulai menjadi standar di berbagai model baru.
Peningkatan ini relevan mengingat ukuran aplikasi, foto, video, dan file pekerjaan terus bertambah setiap tahun. Banyak panduan pembelian smartphone internasional kini menyarankan 128 GB sebagai kapasitas minimum agar perangkat tetap nyaman digunakan dalam beberapa tahun ke depan.
Dukungan Software Semakin Panjang
Salah satu perubahan paling signifikan justru terjadi di sisi perangkat lunak. Produsen kini tidak hanya bersaing dari spesifikasi keras, tetapi juga dari lamanya dukungan pembaruan sistem operasi dan keamanan.
Beberapa smartphone kelas menengah bahkan telah dijanjikan pembaruan Android hingga empat tahun atau lebih, sementara pembaruan keamanan bisa berlangsung lebih lama. Ini menjadi keuntungan besar bagi konsumen yang ingin ponselnya tetap aman dan mendapatkan fitur terbaru tanpa harus ganti perangkat setiap tahun.
Bagi pembeli yang cerdas, standar baru ini berarti nilai tambah tanpa harus mengeluarkan biaya lebih. Pasar ponsel murah Rp1 jutaan pada 2026 bukan lagi soal kompromi, melainkan tentang memilih fitur mana yang paling sesuai dengan kebutuhan harian.