BENGKULU — Fasilitas yang diberi nama Indonesia Green Smart Industrial Park ini berdiri di atas lahan seluas 27 hektare dengan luas workshop sekitar 20.000 meter persegi. Pada tahap awal, pabrik akan memiliki kapasitas produksi hingga 5.000 unit per tahun untuk excavator dan wheel loader, termasuk varian elektrik.
Chairman Guangxi LiuGong Group Co., Ltd., Zheng Jin, mengatakan pembangunan pabrik ini merupakan komitmen jangka panjang perusahaan untuk memperluas investasi di Indonesia sekaligus mendukung transformasi industri hijau. "Kami akan terus memperdalam kemitraan di Indonesia dan kawasan ASEAN, mendorong inovasi melalui kolaborasi yang terbuka, serta bekerja sama dengan para mitra industri untuk mendukung pembangunan industri yang berkelanjutan," ujar Zheng Jin dalam seremoni groundbreaking pada Rabu (22/7).
Target TKDN dan Rantai Pasok Lokal
Meski produksi awal masih menggunakan skema Completely Knocked Down (CKD) dengan komponen dari Tiongkok, LiuGong berkomitmen meningkatkan kandungan lokal secara bertahap. President Director LiuGong Machinery Indonesia, Levi Lin, menargetkan dalam tiga tahun ke depan perusahaan akan mengembangkan mitra dan pemasok lokal untuk membangun ekosistem industri alat berat nasional.
"Kami tidak hanya ingin membangun sebuah pabrik, kami juga ingin membangun ekosistem. Kami ingin membantu pemerintah Indonesia mengembangkan industri alat berat dan menghadirkan lebih banyak supplier di Indonesia," kata Levi Lin.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang turut hadir dalam acara tersebut, menyambut baik investasi ini. Menurutnya, kehadiran LiuGong di Karawang akan memberikan efek berganda bagi masyarakat sekitar, mulai dari penerimaan pajak hingga tumbuhnya usaha-usaha baru di wilayah tersebut.
Elektrifikasi Jadi Fokus Utama
Vice President of Guangxi LiuGong Machinery, Deng Tao, menjelaskan bahwa elektrifikasi menjadi salah satu prioritas investasi perusahaan di Indonesia. Selain telah menyesuaikan mesin diesel agar kompatibel dengan biodiesel B50, LiuGong menilai alat berat elektrik akan menjadi solusi penting di masa depan.
"Elektrifikasi adalah tren yang sangat jelas di Indonesia dan juga di seluruh dunia. Kami ingin bekerja sama dengan pemerintah dan supplier lokal untuk membangun ekosistem alat berat elektrik di Indonesia," ujar Deng Tao.
Namun, adopsi alat berat listrik masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti kesiapan infrastruktur pengisian daya, pola operasi di sektor pertambangan, dan biaya investasi awal yang tinggi. Pembangunan pabrik ini baru merupakan langkah awal menuju terbentuknya ekosistem alat berat rendah emisi di Indonesia.
Investasi SDM dan Riset
Selain pembangunan fasilitas produksi, LiuGong juga mengalokasikan investasi untuk riset dan pengembangan (R&D), khususnya teknologi elektrifikasi. Di bidang sumber daya manusia, perusahaan telah menjalin kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada dan lebih dari 10 institusi pendidikan di Indonesia. Program pelatihan yang telah berjalan sejak 2023 bahkan sudah melatih lebih dari 900 siswa.
Masuknya investasi LiuGong menunjukkan meningkatnya kepercayaan produsen global terhadap prospek industri manufaktur Indonesia. Keberhasilan proyek ini akan sangat bergantung pada realisasi peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), tumbuhnya pemasok komponen lokal, serta keberhasilan transfer teknologi. Jika target tersebut tercapai, Indonesia berpeluang berkembang menjadi pusat manufaktur alat berat berorientasi ekspor di Asia Pasifik.