BENGKULU — Dalam wawancara dengan Bike World yang dikutip Minggu (26/7/2026), Marquez kembali menyuarakan kegelisahan terhadap arah MotoGP. Ia menyebut era keemasan balapan justru terjadi sebelum perangkat aerodinamika merajai sirkuit.
Aerodinamika Ubah Karakter Balapan
Perkembangan pesat sektor aerodinamika dan ride height device dalam 10 tahun terakhir memang membuat motor makin cepat. Namun Marquez menilai harga yang dibayar terlalu mahal: pembalap kehilangan kebebasan berkendara.
"Anda harus mengikuti apa yang diinginkan aerodinamika," ujar Marquez. "Kalau memaksa motor keluar batas, Anda justru melawan aerodinamika dan berakhir lebih lambat."
Pembalap Kehilangan Gaya Unik
Menurut pembalap Repsol Honda itu, motor sekarang lebih cocok untuk robot. "Motor yang paling saya nikmati adalah motor 2014, 2015, 2016 – saat belum ada aerodinamika. Sekarang memang menyenangkan dikendarai, tapi lebih seperti gaya berkendara robot," katanya.
Marquez menegaskan bahwa pembalap yang memaksakan gaya balap sendiri akan kehilangan waktu. Teknologi aerodinamika kini menjadi penentu lintasan, bukan insting atau keberanian pembalap.
Marquez Rindu Era 2014-2016
Tiga musim itu menjadi masa keemasan bagi Marquez. Tanpa gangguan aerodinamika, ia bisa mengeksplorasi batas motor dan gaya balap agresifnya. Kini, setiap tikungan sudah dikalkulasi oleh aliran udara dan perangkat ketinggian.
Kritik Marquez bukan yang pertama. Sebelumnya sejumlah pembalap senior seperti Valentino Rossi dan Dani Pedrosa juga menyoroti dominasi teknologi yang mengubah esensi balap MotoGP. Namun pernyataan Marquez kali ini datang saat kompetisi semakin ketat dengan dominasi pabrikan Eropa.
Meski demikian, perkembangan aerodinamika tak bisa dihindari. Regulasi teknis MotoGP terus berubah, dan pabrikan berlomba menciptakan downforce maksimal. Marquez hanya bisa berharap ada keseimbangan antara kecepatan dan jiwa balapan manusia.
"Saya hanya ingin balapan lagi dengan motor yang merespons sentuhan jari, bukan perintah dari komputer," pungkasnya. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa di balik kecepatan 350 km/jam, ada jiwa pembalap yang ingin tetap bebas.