BENGKULU — Produsen mobil asal China itu kini tidak lagi bergantung sepenuhnya pada impor untuk memenuhi permintaan pasar Tanah Air. Dalam dua tahun terakhir, BYD telah menghadirkan enam model di Indonesia—Atto 3, Dolphin, Seal, M6, Sealion 7, hingga Atto 1—dan semuanya mencatat penjualan yang solid, bahkan memimpin pangsa pasar mobil listrik nasional.
Namun, keputusan untuk merakit secara lokal sempat membuat kinerja penjualan BYD terguncang. Pada Mei lalu, hasil penjualan mereka menjadi yang terendah dalam dua tahun terakhir. Pihak BYD mengaku saat itu tengah melakukan transisi produksi. Setelah proses rampung, penjualan kembali membaik dan terlihat jelas pada Juli 2026 yang naik drastis.
Dua Model yang Sudah Diproduksi di Dalam Negeri
Hingga kini, baru dua model yang masuk jalur perakitan lokal: M6 dan Atto 1. Jika dua varian M6 dihitung terpisah, maka total ada tiga model yang dirakit di Indonesia. Model lain seperti Atto 3, Dolphin, Seal, dan Sealion 7 masih diimpor utuh.
Sealion 7 sebenarnya cukup sukses di segmen SUV listrik. Namun BYD belum bisa merakitnya karena volume penjualannya belum setinggi Atto 1 dan M6.
Atto 1 Jadi Andalan Baru BYD
Tidak mengherankan jika Atto 1 menjadi model pertama yang dipilih untuk dirakit lokal. Sejak dirilis setahun lalu, model ini langsung menjadi mobil listrik murah pertama dari BYD dan terbukti laris. Sepanjang tahun lalu, Atto 1 terjual lebih dari 22 ribu unit—dan angka itu diraih hanya dalam tiga bulan.
Meski sempat terguncang akibat transisi produksi, Atto 1 berhasil pulih. Pada Juli lalu, penjualannya bahkan mengungguli Jaecoo J5 EV yang sempat menguasai pasar mobil listrik Indonesia sepanjang semester pertama. Ini membuka peluang bagi Atto 1 untuk merebut kembali posisi teratas dari merek senegaranya tersebut.
M6 dan Varian PHEV yang Langsung Laris
M6 menjadi model kedua yang dirakit lokal. MPV listrik ini sempat menjadi model BEV terlaris tahun 2024 dan masih mencatat hasil penjualan yang cukup bagus, meski kini Atto 1 yang lebih unggul. BYD juga menghadirkan M6 dalam versi PHEV yang disebut M6 DM—menjadi mobil PHEV pertama mereka di Indonesia.
Begitu dijual, M6 DM langsung menjadi buruan konsumen. Penjualannya di bulan Juli bahkan mengungguli Chery Tiggo 8 CSH yang sudah lama memegang posisi teratas di pasar PHEV.
Mengapa Hanya Atto 1 dan M6 yang Dirakit Lokal?
Keputusan BYD memprioritaskan dua model ini didasari tingginya permintaan yang terus meningkat tiap bulan. Dengan kapasitas produksi yang ada, mereka harus segera merakit dan mengirim unit ke konsumen, terutama untuk Atto 1 yang sempat mengalami penurunan penjualan pada Mei lalu.
Adapun model lain seperti Atto 3, Dolphin, dan Seal mencatat penjualan yang tidak setinggi Atto 1 dan M6. Sealion 7 sebenarnya lebih laris dibanding tiga model BEV tersebut, sehingga wajar jika banyak pihak berharap model ini menyusul dirakit lokal.