BENGKULU — Menyusui bayi kembar ternyata tak selalu berjalan mulus. Aktris India Divyanka Tripathi membagikan pengalamannya menghadapi ASI merembes, payudara nyeri, hingga rasa bersalah yang jarang dibicarakan terbuka. Ini pelajaran berharga untuk ibu baru di Indonesia.
Divyanka Tripathi dan suaminya, Vivek Dahiya, menyambut kelahiran bayi kembar laki-laki pada Mei 2026. Dua bulan setelah melahirkan, Divyanka menuangkan pengalamannya lewat vlog YouTube yang menyorot sisi menyusui yang sering luput dari pembicaraan.
Ia mengaku menyusui tidak sesederhana yang dibayangkan. Divyanka merasa masih terus belajar memahami tubuhnya sendiri sekaligus kebutuhan kedua bayinya yang datang bersamaan.
Divyanka menceritakan ASI-nya bisa mulai merembes ketika sudah waktunya menyusui, bahkan hanya karena mendengar tangisan bayinya. Bagi ibu yang baru pertama kali mengalaminya, kondisi ini tentu mengejutkan.
Ia bahkan sempat merasa malu. Padahal, keluarnya ASI secara spontan adalah refleks alami tubuh sebagai respons terhadap rangsangan tertentu. Jadi, ibu tidak perlu merasa tubuhnya "aneh" ketika ASI merembes.
Rutinitas Divyanka semakin padat dengan kehadiran bayi kembarnya. Ada kalanya sesi menyusui tertunda karena banyak tamu datang melihat bayinya. Ketika waktu menyusui terlewat, payudaranya terasa sangat tidak nyaman dan sakit.
NHS menjelaskan pembengkakan payudara atau breast engorgement dapat membuat payudara terasa keras, kencang, dan nyeri. Penundaan menyusui juga berhubungan dengan penumpukan ASI, yang bisa memicu saluran tersumbat.
Namun, bukan berarti setiap ibu yang telat menyusui pasti mengalami sumbatan atau mastitis. Kondisinya bisa berbeda pada setiap orang.
Divyanka menyoroti sisi emosional perjalanan menyusui. Ia mengatakan ada rasa sakit sekaligus rasa bersalah yang menurutnya jarang dibahas terbuka.
Menjadi ibu baru bukan hanya soal memastikan bayi mendapat ASI. Ibu juga sedang beradaptasi dengan perubahan tubuh, kurang tidur, rutinitas baru, dan berbagai tuntutan setelah melahirkan. Apalagi dengan bayi kembar, kebutuhan menyusui bisa datang lebih sering dan butuh pengaturan waktu berbeda.
Pengalaman Divyanka mengingatkan bahwa kesulitan menyusui tidak selalu berarti seorang ibu kurang berusaha.
Dalam curhatnya, Divyanka menyampaikan pesan untuk ibu baru bahwa menyusui bukanlah sebuah ujian. Kemampuan bayi untuk latch atau melekat pada payudara bukan bakat otomatis sejak lahir.
Pandangan ini sejalan dengan penjelasan NHS bahwa latching on adalah keterampilan yang perlu dipelajari ibu dan bayi bersama-sama. Posisi dan pelekatan yang tepat biasanya butuh waktu dan latihan, bukan sesuatu yang langsung sempurna di hari pertama.
Nyeri saat menyusui tidak selalu harus ditahan. Jika payudara terasa keras, memerah, panas, atau disertai demam, segera konsultasi ke dokter atau konselor laktasi. Tanda-tanda ini bisa mengarah pada mastitis yang butuh penanganan.
WHO menekankan ibu menyusui membutuhkan dukungan, bukan penilaian. Dukungan dari keluarga, tenaga kesehatan, dan lingkungan sekitar membuat proses menyusui terasa lebih ringan.
Setiap ibu punya perjalanan menyusuinya sendiri. Kalau hari ini terasa berat, itu bukan tanda kegagalan. Ibu dan bayi sedang belajar bersama, satu sesi demi satu sesi.