BENGKULU — Gelombang kritik menerpa departemen desain Ferrari pasca diperkenalkannya Luce EV, model listrik murni pertama pabrikan asal Italia tersebut. Suara kritis tidak hanya datang dari pengamat, tetapi juga dari mantan petinggi internal perusahaan dan pejabat tinggi negara. Menteri Transportasi Italia secara terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap bahasa desain yang dinilai kurang berani.
Kritik dari Dalam dan Luar Pabrikan
Mantan eksekutif Ferrari yang enggan disebut namanya menilai Luce EV gagal menghadirkan terobosan visual yang selama ini menjadi ciri khas Ferrari. Menurutnya, transisi ke era elektrifikasi seharusnya menjadi momentum untuk mendefinisikan ulang estetika, bukan justru menghasilkan desain yang terkesan generik.
"Ini bukan Ferrari yang kami kenal," ujar sumber tersebut dalam pernyataan yang dikutip media setempat. Sementara itu, Menteri Transportasi Italia menambahkan bahwa desain Luce EV tidak mencerminkan ambisi dan sejarah panjang Ferrari sebagai pemimpin inovasi otomotif. Ia menekankan bahwa sebuah ikon seperti Ferrari seharusnya tetap menjadi rujukan, bukan panen hujatan.
Ferrari Luce EV: Titik Balik yang Kontroversial
Luce EV merupakan langkah besar Ferrari memasuki era mobil listrik. Namun, alih-alih disambut gegap gempita, peluncurannya justru memicu perdebatan sengit di kalangan enthusiast. Banyak yang menilai desainnya terlalu aman dan tidak memiliki elemen kejutan yang biasanya melekat pada setiap model baru pabrikan asal Maranello itu.
Kritik paling tajam menyoroti proporsi bodi dan detail lampu yang dinilai tidak harmonis. Para pengamat menilai Ferrari gagal menerjemahkan bahasa desain agresif dan elegan ke dalam platform EV. Hal ini kontras dengan reputasi Ferrari selama puluhan tahun sebagai tolok ukur desain otomotif global.
Apa yang Berubah dari DNA Desain Ferrari?
Selama ini, Ferrari dikenal dengan garis bodi yang mengalir, lekukan yang dramatis, dan gril depan yang ikonik. Pada Luce EV, elemen-elemen tersebut dinilai kurang menonjol. Menteri Transportasi Italia secara spesifik menyebut desainnya "tidak inovatif" dan gagal membangkitkan emosi yang seharusnya muncul saat melihat sebuah Ferrari.
Kritik ini menjadi sinyal peringatan bagi divisi desain Ferrari. Di tengah persaingan ketat pasar EV premium, pabrikan lain seperti Porsche dengan Taycan atau Rimac dengan Nevera justru berhasil menciptakan identitas visual yang kuat untuk mobil listrik mereka. Ferrari, yang selama ini menjadi rujukan, justru dinilai tertinggal dalam aspek desain.
Hingga berita ini diturunkan, Ferrari belum memberikan tanggapan resmi atas kritik yang beredar. Publik kini menantikan langkah selanjutnya, apakah pabrikan asal Italia ini akan melakukan