BENGKULU — Perputaran uang selama Festival Tabut 2026 di Bengkulu diperkirakan mencapai lebih dari Rp20 miliar. Angka itu berasal dari aktivitas perdagangan, kuliner, perhotelan, transportasi, dan UMKM yang tumbuh selama penyelenggaraan festival budaya terbesar di provinsi tersebut.
Gubernur Bengkulu Helmi Hasan menegaskan festival ini bukan sekadar ritual tahunan. “Tabut adalah kebanggaan Bengkulu. Melalui festival ini kita menjaga warisan budaya leluhur sekaligus menggerakkan sektor pariwisata, UMKM, dan ekonomi masyarakat,” kata Helmi di Bengkulu, Kamis.
Dampak Ekonomi dari Bazar UMKM hingga Perhotelan
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu Murlin Hanizar melaporkan data sementara perputaran ekonomi selama festival. Angka Rp20 miliar itu dihitung dari berbagai sektor yang bergerak bersamaan, mulai dari pedagang kaki lima hingga okupansi hotel yang meningkat drastis.
“Festival Tabut tahun ini berlangsung sukses dengan dukungan seluruh pihak. Selain prosesi budaya, berbagai perlombaan seni dan budaya juga menjadi daya tarik bagi masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke Bengkulu,” ujar Murlin.
Masuk Kalender Nasional, Identitas Daerah Terangkat
Festival Tabut merupakan agenda budaya yang masuk dalam kalender nasional Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata. Helmi Hasan menilai status itu memperkuat posisi Bengkulu di peta pariwisata nasional sekaligus menjadi sarana promosi daerah.
Menurut dia, daya tarik Festival Tabut memberikan ruang kreativitas masyarakat. Acara ini dikemas dengan kegiatan meriah dan menghadirkan bazar UMKM, baik dari lokal Bengkulu maupun provinsi lain. Hal itu mengakselerasi perputaran uang di tengah masyarakat.
Warisan Leluhur yang Harus Diwariskan
Di luar dampak ekonomi, Helmi menekankan pelestarian budaya tetap menjadi tujuan utama. Ia mengatakan warisan leluhur harus terus dijaga agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang. “Bengkulu harus terus dikenal melalui budaya yang kita miliki,” katanya.
Pemerintah Provinsi Bengkulu berencana terus mengembangkan paket wisata yang terintegrasi dengan Festival Tabut. Langkah ini diharapkan mampu memperpanjang masa tinggal wisatawan dan meningkatkan belanja di sektor UMKM lokal.