BENGKULU — Gelaran Festival Tabut 2026 yang berlangsung selama sepuluh hari membawa berkah bagi perekonomian warga. Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu, Alpha Rizal Fadlan, menyebutkan nilai transaksi yang tercipta mencapai Rp26 miliar.
"Nilai perputaran ekonomi yang mencapai sekitar Rp26 miliar tersebut melibatkan kurang lebih 235 pelaku UMKM yang ikut berpartisipasi," kata Alpha, Senin (29/6/2026).
Pengunjung Membludak di Momen Liburan
Jumlah kunjungan pada festival tahun ini menembus angka 250 ribu orang. Angka itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 210 ribu pengunjung.
Salah satu pendorong utama lonjakan ini adalah kebetulan jadwal acara yang bertepatan dengan masa libur sekolah. Banyak keluarga memanfaatkan momen tersebut untuk berwisata sambil menyaksikan rangkaian prosesi Tabut.
Belanja Pengunjung Rp30 Ribu hingga Rp100 Ribu
Berdasarkan analisis Dinas Pariwisata, rata-rata setiap pengunjung mengeluarkan uang antara Rp30 ribu hingga Rp100 ribu selama mengikuti festival. Produk yang ditawarkan para pelaku UMKM masih berada di kategori harga menengah ke bawah, sehingga mudah dijangkau masyarakat umum.
Transaksi tersebut tidak hanya berasal dari penjualan makanan dan minuman, tetapi juga dari cendera mata serta jasa-jasa lain yang disediakan oleh pedagang kaki lima dan pelaku usaha lokal di sekitar lokasi acara.
Dampak Berganda bagi Sektor Lain
Kenaikan perputaran uang sebesar Rp4 miliar dalam setahun menunjukkan bahwa Festival Tabut tidak sekadar ritual tahunan. Perhelatan ini menjadi motor penggerak ekonomi kreatif dan sektor informal di Bengkulu.
Para pelaku UMKM yang kebanyakan berasal dari komunitas lokal mengaku omzet mereka meningkat signifikan selama sepuluh hari perayaan. Pemerintah daerah pun diharapkan terus menjaga kualitas acara agar daya tarik wisatawan tidak surut di tahun-tahun mendatang.