BENGKULU — Bus yang membawa Mahmudi Janto melaju perlahan meninggalkan Yogyakarta menuju Bengkulu pada 24 Agustus 1985. Kala itu, ia hanyalah lulusan Teknik Sipil yang memilih merantau demi masa depan. Tak pernah terbayangkan, kota yang ditujunya kelak menjadi tempat ia membangun keluarga, mengembangkan usaha, hingga duduk di kursi DPRD Provinsi Bengkulu.
"Saya datang ke Bengkulu tahun 1985. Setelah sampai di sini, saya merasa cocok dan akhirnya memutuskan menetap. Bengkulu sudah menjadi rumah bagi saya dan keluarga," kenang Mahmudi.
Utang Rp1 Miliar dan Keputusan Berani di 1992
Karier profesional Mahmudi dimulai di PT Batanghari. Berkat kerja keras, ia sempat menjabat sebagai kepala cabang di Sumatera Barat. Titik balik terjadi pada 1992, saat pemilik PT Roda Teknindo berniat kembali ke Jakarta dan menawarkan perusahaan itu kepadanya.
Saat dipelajari, nilai aset perusahaan mencapai sekitar Rp1 miliar—jumlah yang sama besarnya dengan utang yang menumpuk. Banyak orang mungkin mundur. Mahmudi justru mengambil langkah sebaliknya.
"Ternyata aset dan utangnya sama besar. Tetapi saya percaya setiap masalah pasti ada jalan keluarnya," ujarnya.
Ia mengajak sejumlah rekan dekat, di antaranya Purwanto, Yohanes, dan Zen, untuk bersama-sama membangun perusahaan. Kerja keras dan saling percaya menjadi modal utama. Perlahan, PT Roda Teknindo bangkit dan berkembang menjadi salah satu perusahaan yang diperhitungkan di Bengkulu.
Mengabdi di DPRD, Bisnis Tetap Berjalan
Saat Indonesia dilanda krisis ekonomi 1998, Mahmudi memilih terjun ke dunia politik. Kepercayaan masyarakat mengantarkannya menjadi anggota DPRD Provinsi Bengkulu. Demi menghindari konflik kepentingan, ia meninggalkan seluruh aktivitas bisnis yang berkaitan dengan proyek pemerintah dan menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada rekan-rekannya.
Keputusan itu justru membuktikan kekuatan sistem yang telah ia bangun. Tanpa keterlibatan langsung, perusahaan tetap berkembang.
"Saya bersyukur karena perusahaan tetap maju meskipun saya tidak lagi terlibat langsung saat itu," katanya.
Tongkat Estafet ke Generasi Kedua
Selepas menyelesaikan tugas di DPRD pada 2004, Mahmudi kembali fokus pada pengembangan usaha, termasuk sektor perkebunan. Momentum regenerasi datang pada 2015 ketika putranya, Yosia Yodan, kembali ke Bengkulu dan mulai terlibat aktif mengelola bisnis keluarga.
Kini, berbagai unit usaha di sektor perhotelan, pendidikan, dan bidang lainnya dikelola oleh anak-anaknya. Mahmudi memilih peran berbeda—menjadi mentor yang berbagi pengalaman dan tempat berdiskusi.
"Sekarang saya lebih banyak menjadi teman berdiskusi. Anak-anak yang menjalankan usaha, saya hanya berbagi pengalaman dan memberikan masukan," ujarnya.
Rencana ke Depan: Klinik BPJS hingga Industri Minyak Goreng
Bagi Mahmudi, keberhasilan bisnis baru berarti jika mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Bersama keluarga, ia mendorong sejumlah rencana pengembangan bernilai sosial: pembangunan klinik kesehatan berbasis BPJS di kawasan Sukarami, pengembangan sport center dan fasilitas olahraga di Kota Bengkulu, hingga cita-cita membangun industri minyak goreng terintegrasi mulai dari perkebunan hingga produksi.