KEPAHIANG — Fenomena antrean solar subsidi kembali terjadi di Bengkulu. Dua SPBU di Kabupaten Kepahiang, yakni SPBU Kelobak dan SPBU Pekalongan, menjadi titik tumpu kendaraan bermesin diesel yang mengular hingga ke bahu jalan. Truk fuso dan kendaraan angkutan barang lainnya terparkir berjajar, menunggu giliran mengisi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Sopir Lintas Sumatera Terjebak Antrean Panjang
Salah seorang pengemudi truk lintas Sumatera, Jumadi, mengaku sudah menginap di lokasi sejak Rabu (1/7/2026) untuk mengamankan posisi antrean. "Saya sudah satu hari satu malam menunggu giliran mendapatkan solar, antreannya panjang," ujarnya.
Kondisi ini membuat kawasan sekitar SPBU lebih padat dari biasanya. Meski begitu, arus lalu lintas masih bisa dilalui meski sebagian badan jalan digunakan sebagai tempat parkir truk.
Pembatasan di Daerah Lain Dorong Perpindahan Pembelian
Pengawas SPBU Kelobak, Fuji, membenarkan lonjakan permintaan solar subsidi dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, mayoritas kendaraan yang mengantre berasal dari luar Kabupaten Kepahiang. Hal itu terlihat dari dominasi pelat nomor kendaraan luar daerah.
"Di daerah lain sudah ada pembatasan pembelian solar subsidi. Kemungkinan karena itu mereka bergeser mengisi BBM di sini," ungkap Fuji.
Ia menjelaskan, Kabupaten Kepahiang hanya memiliki dua SPBU yang melayani penjualan solar subsidi. Dengan jumlah titik penyaluran yang terbatas, lonjakan kendaraan dari luar daerah membuat antrean semakin panjang dan tak terhindarkan.
Dampak pada Aktivitas Distribusi Barang
Antrean panjang ini dikhawatirkan mengganggu distribusi barang lintas Sumatera. Para sopir yang kehabisan waktu menunggu terpaksa menunda perjalanan, yang berpotensi memperlambat pengiriman logistik ke sejumlah wilayah.
Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah daerah atau Pertamina mengenai langkah antisipasi untuk mengurai antrean di Kepahiang. Namun, warga setempat berharap ada penambahan kuota atau penyaluran solar subsidi agar kejadian serupa tak berulang.