BENGKULU — Angka 67 persen itu berarti dari total ribuan kilometer jalan provinsi, baru sekitar dua pertiganya yang benar-benar layak dilalui. Tejo Suroso mengakui, masih ada sejumlah ruas jalan penting yang kondisinya memprihatinkan dan perlu segera diperbaiki.
"Dalam perjalanannya, pelaksanaan proyek infrastruktur ini sempat menghadapi kendala teknis di lapangan. Faktor eksternal seperti kenaikan harga minyak industri dan lonjakan harga material aspal menjadi pemicu utama keterlambatan realisasi pengerjaan di beberapa titik," kata Tejo dalam keterangan resminya, belum lama ini.
Lonjakan Harga Material Jadi Kendala Utama
Fenomena kenaikan harga aspal ini bukan hanya terjadi di Bengkulu, tapi juga dirasakan oleh daerah lain di Indonesia. Akibatnya, proyek-proyek pengaspalan jalan yang sudah direncanakan harus menyesuaikan dengan harga pasar yang fluktuatif. Hal ini membuat realisasi fisik di beberapa titik menjadi molor dari jadwal yang ditetapkan.
Pemprov Bengkulu Optimalkan Anggaran yang Ada
Meski dihadapkan pada tekanan anggaran, Pemprov Bengkulu menegaskan komitmennya untuk merampungkan proyek. Pihak dinas memastikan seluruh proses pengerjaan akan terus dilanjutkan dengan mengoptimalkan anggaran yang tersedia. Targetnya, seluruh ruas jalan yang masuk prioritas bisa selesai tepat waktu, meski dengan tantangan biaya yang membengkak.
Masyarakat Diminta Ikut Awasi Pembangunan
Tejo Suroso juga mengimbau warga Bengkulu untuk turut serta mengawasi jalannya pembangunan. Menurutnya, partisipasi aktif masyarakat sangat penting agar kualitas proyek yang dihasilkan benar-benar sesuai spesifikasi yang diharapkan.
"Kami tidak bisa bekerja sendiri. Pengawasan dari warga di lapangan akan sangat membantu kami memastikan bahwa setiap rupiah anggaran yang dikeluarkan benar-benar menghasilkan jalan yang berkualitas dan tahan lama," pungkasnya.