MEDAN — Ribuan pasang mata tertuju pada barisan kontingen Kota Bengkulu saat Karnaval Nusantara dalam rangka Rakernas XVIII APEKSI 2026 digelar di kawasan Lapangan Merdeka, Medan, Kamis malam. Parade yang diikuti 98 kota se-Indonesia ini menjadi panggung bagi Bengkulu untuk menunjukkan kekayaan budayanya di hadapan publik nasional.
Penampilan kontingen Bengkulu langsung mencuri perhatian sejak barisan pertama melintas. Para bujang dan gadis mengenakan busana adat dengan motif khas daerah membuka iring-iringan. Tak lama kemudian, suara tabuhan alat musik dhol yang menggelegar menggema di sepanjang Jalan Pemuda, membuat penonton berhenti sejenak untuk menyaksikan dan mengabadikan momen tersebut.
Replika Tabut dan Cosplay Jadi Daya Tarik Tambahan
Kontingen Kota Bengkulu tidak hanya menampilkan tarian dan musik tradisional. Ornamen Tabut—simbol budaya khas Bengkulu—turut dihadirkan dalam bentuk replika yang diarak sepanjang rute. Kehadiran elemen budaya ini memperkuat identitas daerah di tengah keragaman parade Nusantara.
Sentuhan modern juga terlihat dari beberapa peserta yang mengenakan kostum karakter permainan digital atau cosplay. Perpaduan antara elemen tradisional dan kontemporer ini membuat penampilan Bengkulu terlihat segar dan berbeda dari kontingen lainnya.
Wali Kota Turun ke Jalan, Berjalan Bersama Kontingen
Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bengkulu, Dian Fitriani, turun dari kendaraan dan berjalan kaki menyusuri rute karnaval. Keduanya menyapa warga yang berjejer di pinggir jalan sambil mengikuti irama musik pengiring parade.
“Kehadiran Pak Wali Kota dan Ibu Wali Kota langsung di tengah peserta menjadi penyemangat tersendiri bagi kami yang sudah berlatih keras,” ujar salah satu anggota kontingen yang ditemui usai acara. Dedy Wahyudi menyebut partisipasi ini sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian budaya sekaligus promosi pariwisata Bengkulu.
Hujan Tak Surutkan Antusiasme Penonton dan Peserta
Meskipun hujan mengguyur sejak parade dimulai, antusiasme ribuan warga Medan yang memadati lokasi tidak surut. Banyak dari mereka tetap bertahan di pinggir jalan, menggunakan payung atau jas hujan, sambil menyaksikan setiap kontingen yang melintas. Sorak sorai terdengar setiap kali kontingen Bengkulu melewati titik-titik keramaian.
Sepanjang jalur karnaval, warga terlihat sibuk mengabadikan momen menggunakan ponsel dan kamera. Tabuhan dhol yang khas dan atraksi budaya yang unik menjadi sasaran utama jepretan kamera.
Promosi Budaya di Panggung Nasional
Keikutsertaan Kota Bengkulu dalam Karnaval Nusantara tidak sekadar ajang hiburan. Pemerintah Kota Bengkulu memanfaatkan momen ini sebagai media promosi budaya dan pariwisata daerah kepada masyarakat dari berbagai penjuru Indonesia.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap kekayaan seni dan tradisi Bengkulu semakin dikenal dan mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung,” kata Dedy Wahyudi dalam keterangan pers yang diterima redaksi.
Wali Kota didampingi Penjabat Sekretaris Daerah Kota Bengkulu Medy Pebriansyah, Asisten I Alex Perlansyah, serta sejumlah kepala OPD dalam kegiatan tersebut. Karnaval Nusantara sendiri merupakan salah satu rangkaian Rakernas XVIII APEKSI yang menjadi wadah bagi setiap pemerintah kota untuk mempererat hubungan antardaerah sekaligus memperkuat persatuan melalui keberagaman budaya Indonesia.