SELUMA — Selama tiga tahun, Kakek Nurman tak pernah absen bekerja di bawah terik matahari. Pria 74 tahun ini memperbaiki dan melebarkan jalan alternatif yang dulu sempit, berlubang, dan kerap memicu kecelakaan. Semua ia lakukan sendirian, tanpa upah dari pemerintah, bermodal uang pribadi dan sumbangan dari kotak amal yang ia letakkan di lokasi kerja.
Rasa prihatinnya memuncak setelah ia berkali-kali melihat langsung pengendara terjatuh di ruas tersebut. Beberapa insiden bahkan menelan korban jiwa. “Saya melihat jalan ini sangat sempit. Mobil dan motor berpapasan saja salah satunya harus berhenti. Hampir setiap hari ada kecelakaan, bahkan sampai ada yang meninggal. Dari situ saya berpikir harus berbuat sesuatu,” ujarnya, Rabu (8/7/2026).
Modal Awal dari Kantong Pribadi, Lalu Kotak Amal
Awalnya, proyek mandiri itu ia mulai dengan membeli satu mobil kecil pasir dan lima sak semen dari uang pribadi. Karena biaya terbatas, ia kemudian meletakkan kotak amal di dekat lokasi kerja. Uang koin dan kertas dari pengendara yang lewat langsung dibelikan material bangunan.
“Saya ingin berbagi lewat jalan ini. Orang yang membangun masjid dengan kotak amal bisa berhasil, kenapa memperbaiki jalan tidak bisa. Alhamdulillah, hari pertama saja terkumpul Rp500 ribu dan langsung saya belikan material. Sampai sekarang masih terus berjalan,” katanya.
Fokus pada Bahu Jalan, Kecelakaan Menurun
Kakek Nurman sengaja tidak mengajak warga lain membantu karena ia tak punya uang untuk membayar upah pekerja. Baginya, melihat aspal jalan semakin mulus dan angka kecelakaan menurun drastis sudah menjadi upah batin yang membahagiakan.
Saat ini, ia fokus mengecor bahu jalan dengan lebar sekitar satu meter di sisi kiri dan kanan. Proses pelebaran itu sudah ia cicil selama kurang lebih empat bulan terakhir. Pria itu menegaskan tidak mengharapkan pujian atau imbalan dari pihak mana pun.
“Saya hanya minta doa supaya diberi kesehatan dan bisa terus melanjutkan pekerjaan ini,” tutup Kakek Nurman.