BENGKULU SELATAN — Kekhawatiran melanda para petani di Desa Ketaping, Kecamatan Pino Raya, Kabupaten Bengkulu Selatan. Pasokan pupuk NPK Phonska bersubsidi yang menjadi andalan untuk pemupukan tahap kedua hingga kini tak kunjung tiba. Padahal, tanaman padi yang sudah memasuki usia dua bulan sejak ditanam pada Mei 2026 lalu tengah berada di fase kritis pembentukan bulir.
Seorang petani setempat, Erson, mengungkapkan bahwa dari total kebutuhan lahan seluas enam hektare, kelompok tani baru mendapatkan jatah dua karung pupuk urea untuk pemupukan awal. Sementara itu, pupuk Phonska—yang akrab disebut pupuk Toska oleh warga—sama sekali belum didistribusikan oleh kios pengecer resmi.
Dampak Keterlambatan pada Fase Generatif Tanaman
Menurut Erson, idealnya pemupukan menggunakan Phonska harus dilakukan sebelum tanaman padi memasuki fase generatif atau masa pembungaan. Jika ritme pemupukan ini bergeser, proses pembelahan sel tanaman tidak akan berjalan optimal. Akibatnya, kualitas dan kuantitas bulir padi yang dihasilkan dipastikan menurun drastis.
“Saat ini kami petani kesulitan mendapatkan pupuk Toska, sehingga pertumbuhan padi kurang maksimal,” ujar Erson saat ditemui di sawahnya, Senin (13/7/2026).
Ia menambahkan, berdasarkan siklus normal, tanaman padi seusia itu seharusnya sudah mulai merata mengeluarkan malai atau bulir padi muda. Namun, fakta di lapangan menunjukkan sebagian besar tanaman justru mengalami keterlambatan vegetatif. Daun dan batang padi mulai menguning karena belum mendapatkan asupan nutrisi dari pupuk NPK yang mengandung nitrogen, fosfor, dan kalium.
Jadwal Distribusi Terancam Meleset hingga Agustus
Informasi yang beredar di kalangan kelompok tani setempat menyebutkan, pasokan pupuk Phonska bersubsidi baru akan masuk ke desa pada bulan Agustus mendatang. Erson menegaskan, jika jadwal itu benar-benar terealisasi, manfaat pupuk sudah tidak efektif lagi karena tanaman padi akan terlanjur melewati masa kritis pembentukan buah.
“Harusnya padi ini sudah mulai keluar bulir. Pemupukan juga seharusnya sudah dua kali, pertama menggunakan urea saat awal tanam, kemudian Phonska sebelum padi berbuah. Tetapi sekarang baru satu kali pemupukan menggunakan urea,” keluhnya.
Harapan Petani: Akselerasi Distribusi dari Pemkab
Menyikapi ancaman gagal panen ini, para petani di Desa Ketaping berharap jajaran instansi terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan segera turun tangan. Mereka mendesak agar keran penyaluran pupuk Phonska bersubsidi dipercepat agar pemupukan susulan dapat dilakukan sesuai kalender tanam.
Akselerasi distribusi ini dinilai menjadi harga mati demi menjaga ketahanan pangan serta stabilitas kualitas gabah di tingkat produsen. Jika tidak, petani di Bengkulu Selatan harus merelakan sebagian besar hasil panennya musnah akibat keterlambatan pasokan nutrisi tanaman dari pemerintah.